Tim Astrofotografi UB Sebut Penentuan Awal Ramadan 1444 H Sama, Lebaran Berbeda dan Ada Fenomena Gerhana Matahari - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 20 Mar 2023 18:18 WIB ·

Tim Astrofotografi UB Sebut Penentuan Awal Ramadan 1444 H Sama, Lebaran Berbeda dan Ada Fenomena Gerhana Matahari


 Tim Astrofotografi Universitas Brawijaya dalam pengamatan Gerhana Matahari tahun 2016. (ist). Perbesar

Tim Astrofotografi Universitas Brawijaya dalam pengamatan Gerhana Matahari tahun 2016. (ist).

BACAMALANG.COM – Pada Ramadan 1444 H atau tahun 2023 ini, ada beberapa fenomena menarik, yaitu untuk penentuan permulaan berdasar Metode Hisab dan Imkanur Rukyat adalah sama.

Namun untuk akhir Ramadan yang ditandai dengan adanya perayaan Lebaran, dimungkinkan berbeda menurut perhitungan Hisab dan Rukyatul Hilal.

Selain itu ada satu hal menarik, dimana puasa tahun ini, diperkirakan juga terjadi fenomena Gerhana Matahari pada Kamis (20/4/2023).

Hal ini dipaparkan oleh Ketua Tim Astrofotografi Universitas Brawijaya (UB) Eka Maulana, kepada BacaMalang.com, Senin (20/3/2023).

“Awal 1 Ramadan 1444 H diperkirakan bersamaan Kamis (23/3/2023) antara metode Hisab (Muhammadiyah) dan metode Imkanur Rukyat (Nahdlatul Ulama/NU),” tukas Eka Maulana.

Dijelaskannya, menurut metode hisab, 1 Ramadan akan jatuh pada hari Kamis (23/3/2023) dengan posisi ketinggian hilal pada hari Selasa mencapai 7 derajat di Kota DIY.




Sedangkan menurut metode Imkanur Rukyat 1 Ramadan 1444H diprediksi jatuh pada hari yang sama Rabu (23/3/2023) dengan kemungkinan bulan dapat dilihat terutama di Indonesia bagian Barat jika langit cerah dengan tinggi hilal mencapai 8 derajat dan sudut elongasi lebih dari 9 derajat di Kota Sabang pada hari sebelumnya.

Dikatakannya, Lebaran kemungkinan akan berbeda, metode Hisab, memutuskan 1 Syawal 1444H jatuh hari Jumat (21/4/2023) dengan ketinggian hilal pada hari sebelumnya 1 derajat 47 menit 58 detik busur.

Sedangkan metode Imkanur Rukyat pada hari tersebut hilal kemungkinan besar belum bisa dilihat karena masih dibawah kriteria MABIMS 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat, sekalipun diamati dari wilayah Indonesia bagian barat (Kota Sabang) dengan ketinggian hilal 1 derajat pada hari Kamis (20/4/2023).

Sangat besar kemungkinan bulan baru tidak bisa dilihat pada hari tersebut dengan alat bantu sekalipun terlebih jika kondisi langit berawan.

Ada fenomena Gerhana Matahari yang terjadi pada Kamis (20/4/2023), ketika terjadi konjungsi Matahari dan Bulan menjelang 1 Syawal 1444.

Gerhana Matahari total dapat diamati di Indonesia bagian Timur hingga Tengah, sedangkan gerhana Matahari parsial (sebagian) dapat diamati dari Indonesia bagian Tengah hingga bagian Barat.

Pengamatan gerhana di daerah Indonesia bagian barat khususnya Kota Malang, dapat menikmati gerhana Matahari parsial ini mulai pukul 9.28 WIB hingga pukul 12.22 WIB.

Puncak gerhana matahari terjadi pukul 10.52 WIB dengan tingkat magnitute gerhana 67%. Total Waktu gerhana 2 jam 55 menit.

Terjadinya gerhana matahari berpotensi dapat menyebabkan berkurangnya intensitas radiasi infra merah Matahari yang jatuh ke lapisan Ionosfer Bumi.




Fenomena ini memungkinkan menurunnya jumlah Foton yang merupakan gelombang elektromagnetik yang berada di atas bumi, di mana sifatnya sebagai gelombang elektromagnetik ini berperan sebagai media transmisi dalam pengiriman sinyal satelit, radio, HP, maupun sinyal perangkat komunikasi sejenis lainnya.

Jika perangkat-perangkat komunikasi ini tidak diset dengan ambang batas toleransi perubahan intensitas radiasi ini maka ada peluang akan terpengaruh dalam pengiriman datanya.

Perubahan radiasi ini besar kemungkinan juga dapat dirasakan oleh makhluk hidup lain yang peka terhadap perubahan intensitas gelombang elektromagnetik seperti hewan melata, burung, maupun jenis tanaman tertentu.

Disarankan untuk selalu waspada terhadap segala bentuk perubahan iklim, cuaca, maupun fenomena alam lainya.

“Bahwa adanya fenomena-fenomena ini adalah tanda-tanda alam dari Sang Pencipta yang mestinya kita ambil pelajaran serta hikmahnya. Disarankan melihat gerhana Matahari dengan filter Matahari, sehingga tidak secara langsung radiasi sinar ini mengenai mata Kita,” tuturnya.

Tim Astrofotografi UB juga melakukan kajian Astrofotografi dengan Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan analisis dan prediksi fenomena-fenomena luar angkasa, satelit, dan benda-benda langit lainnya.

Koordinator Tim M Fauzan Edi Purnomo juga melakukan arah pengembangan AI untuk pengiriman-pengiriman sinyal satelit melalui pengiriman sinyal dengan antena khusus untuk meningkatkan performansi pengiriman data digital

“Tim UB juga menggunakan teleskop astrophotography tipe refraktor (Losmandy) untuk mengamati fenomena tersebut,” pungkasnya.

Pewarta : Hadi Triswanto
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Diduga Ucapan Rasis Oknum Panitera Picu Ketegangan saat Eksekusi Ruko di Sengkaling

22 April 2026 - 17:46 WIB

Peringati Hari Kartini, Perempuan Bangsa Malang Dorong Peran Strategis Perempuan Lewat Talkshow

22 April 2026 - 16:42 WIB

Banjir Rendam Gang Mirej Madyopuro, Wali Kota Malang Siapkan Solusi Darurat hingga Jangka Panjang

22 April 2026 - 15:59 WIB

Warga Candirenggo Kompak Gagalkan Transaksi Narkoba, Tiga Terduga Pelaku Diamankan

22 April 2026 - 13:35 WIB

Aksi Maling Perempuan di Pakis Terekam CCTV, Gondol Produk Frozen Saat Toko Ramai

22 April 2026 - 06:00 WIB

DPUPRPKP Malang Edukasi PBG-SLF dan Pengelolaan Limbah untuk Dapur SPPG

22 April 2026 - 05:56 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !