Mbah Rajak dan Penanganan Keluarga Miskin yang Serampangan - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 18 Okt 2026 11:45 WIB ·

Mbah Rajak dan Penanganan Keluarga Miskin yang Serampangan


 Pietra Widiadi Founder Pendopo Kembangkopi Malang, Pendiri Drive Innovation for Alternative Livelihood Foundation (Dial Foundation). pejalan tradisi Jawa, dan Sosiolog alumni Unair. (AI Gemini) Perbesar

Pietra Widiadi Founder Pendopo Kembangkopi Malang, Pendiri Drive Innovation for Alternative Livelihood Foundation (Dial Foundation). pejalan tradisi Jawa, dan Sosiolog alumni Unair. (AI Gemini)

Oleh: Pietra Widiadi

Saya memiliki seorang kerabat yang juga merupakan tetangga, yaitu Mbah Rajak, yang sehari-hari mengelola lahan tegal di wilayah Tegal Wetan. Sebelum dikelola oleh beliau, lahan tersebut dalam kondisi kurang terawat dan belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, selama kurang lebih delapan bulan Mbah Rajak merawat dan mengelolanya secara tekun, tegal yang semula terbengkalai perlahan-lahan berubah menjadi lahan yang hidup, produktif, dan memberikan hasil nyata. Pada tahun 2026 ini, tanaman kopi dan singkong di lahan tersebut menunjukkan hasil panen yang sangat baik.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif memiliki potensi besar untuk dipulihkan melalui ketekunan, pengetahuan lokal, dan praktik pengelolaan yang berkelanjutan. Apa yang dilakukan Mbah Rajak bukan sekadar kegiatan mengolah tanah untuk menghasilkan panen, melainkan juga wujud nyata dari laku ngopeni—merawat, menjaga, dan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan alam melalui tindakan sehari-hari.

Dalam sepuluh hari terakhir, kondisi kesehatan Mbah Rajak mulai menurun. Perutnya mengalami pembengkakan hingga akhirnya, lima hari yang lalu, beliau dibawa ke Puskesmas Wagir untuk mendapatkan perawatan medis. Selama lima hari, Mbah Rajak harus menjalani rawat inap di puskesmas tersebut. Tadi malam, beliau diizinkan keluar dari puskesmas dan dirujuk ke sebuah rumah sakit di Turen untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Namun, sore ini saya menerima kabar duka bahwa Mbah Rajak telah berpulang. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan yang mendalam, terutama ketika saya mengingat bagaimana selama delapan bulan terakhir beliau dengan tekun merawat Tegal Wetan yang semula tidak terurus hingga kembali hidup dan menghasilkan panen kopi serta singkong yang sangat baik. Kini, bukan hanya seorang tetangga yang telah pergi, melainkan juga sosok yang melalui kerja sehari-harinya telah menunjukkan arti penting merawat tanah, menjaga kehidupan, dan membangun hubungan yang erat antara manusia dan alam. Apa yang ditinggalkan Mbah Rajak di Tegal Wetan menjadi jejak nyata bahwa merawat tanah bukan sekadar soal hasil panen, tetapi juga tentang ketekunan, pengabdian, dan kehidupan yang terus tumbuh, bahkan ketika orang yang merawatnya telah tiada.

Mbah Jak dan Pranata Mangsa

Mbah Rajak memperlakukan tegalan itu layaknya anak asuhnya sendiri, yang harus dirawat, dijaga, dan diperhatikan pertumbuhannya setiap hari. Sejengkal demi sejengkal lahan ditata, dicangkul, dan dirawat dengan cermat, menyesuaikan kondisi tanah serta kebutuhan tanaman yang tumbuh di atasnya. Lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi yang sebelumnya tampak terbengkalai, seolah kehilangan kehidupan, perlahan-lahan berubah menjadi hamparan yang menghijau. Di tangan Mbah Rajak, tanah yang semula seperti tak berdaya kembali menemukan kehidupannya; tanaman kopi tumbuh, singkong berkembang, dan harapan akan hasil panen mulai terwujud.

Tidak ada perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui kerja yang tekun, kesabaran, dan perhatian yang diberikan hari demi hari. Bagi Mbah Rajak, tegalan bukan sekadar sebidang tanah untuk menghasilkan panen, melainkan kehidupan yang mesti diopeni, dirawat dengan sepenuh hati agar tetap tumbuh dan memberikan manfaat. Kini, setelah Mbah Rajak berpulang, hijaunya Tegal Wetan menjadi saksi bisu dari ketekunan dan kasih sayangnya; sebuah warisan kehidupan yang mengajarkan bahwa ketika tanah dirawat dengan sungguh-sungguh, ia akan membalasnya dengan kehidupan.

Dalam praktik bercocok tanam yang dijalankan Mbah Rajak, setiap jenis tanaman tidak ditanam sembarangan, tetapi mengikuti perhitungan hari yang diyakini memiliki kesesuaian dengan karakter dan hasil tanaman. Singkong dan ubi, misalnya, ditanam pada hari Anggara atau Selasa Pon, sebagaimana dikenal dalam tradisi Primbon Tani masyarakat Jawa. Pemilihan hari tersebut berakar pada kepercayaan bahwa kombinasi neptu Selasa Pon menghasilkan hitungan oyot atau akar, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan umbi menjadi besar, lebat, dan berkualitas baik.

Bagi Mbah Rajak, perhitungan hari bukan sekadar warisan pengetahuan leluhur, melainkan bagian dari cara memahami dan memperlakukan alam dengan penuh perhatian, dengan menyelaraskan waktu tanam, jenis tanaman, dan harapan akan hasil panen. Praktik ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal diwariskan dan diwujudkan dalam tindakan pertanian sehari-hari, sekaligus menjadi bagian dari hubungan sosial-ekologis masyarakat Jawa yang memadukan pengalaman bercocok tanam, keyakinan budaya, dan penghormatan terhadap siklus kehidupan. Kepercayaan mengenai hitungan oyot tersebut merupakan bagian dari sistem pengetahuan tradisional, bukan kepastian agronomis bahwa hari tanam tertentu secara langsung menentukan besarnya umbi.

Karena kekukuhan mbak Jak, ini ternyata mendapatkan hasil yang tak pernah kukira. Singkong yang dipanen enak rasanya, ubi yang dibanen bernas dan “meduk” dan manis. Maka tanaman yang ditanam, harus sesuai dengan jatidirinya.

Mbak Rajak dengan Kepulangannya

Selama lima hari menjalani rawat inap di Puskesmas Wagir, kondisi Mbah Rajak cukup memprihatinkan. Perutnya yang membengkak disertai kondisi tubuh yang semakin lemah membuat beliau hanya bisa tergolek di tempat tidur. Berdasarkan diagnosis sementara infeksi saluran pencernaan, beliau disarankan untuk berpuasa sebagai bagian dari penanganan medis dan hanya mendapatkan asupan melalui infus yang disebut sebagai HCL dalam catatan yang saya terima.

Pada hari kelima, Mbah Rajak akhirnya diizinkan untuk dirujuk ke rumah sakit di Turen guna mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Perjalanan menuju rumah sakit itu menjadi ikhtiar lanjutan untuk memulihkan kesehatannya, setelah selama beberapa hari tubuhnya berjuang menghadapi sakit yang berat. Sulit membayangkan sosok yang selama ini begitu tekun mencangkul, menata, dan merawat Tegal Wetan, sebengkal demi sebengkal, kini harus terbaring lemah tanpa daya. Sosok yang terbiasa menghidupkan tanah melalui kerja tangannya sendiri, pada saat itu justru berada dalam keadaan yang membutuhkan perawatan dan pertolongan orang lain.

Selama menjalani perawatan, sejauh yang saya ketahui, tidak tampak intervensi medis yang berarti selain pemberian infus sebagai bagian dari prosedur perawatan rawat inap. Di tengah kondisi sakit yang berat, dengan perut membengkak dan tubuh yang semakin lemah, Mbah Rajak seolah hanya menjalani hari-hari dalam keadaan tergolek tanpa daya, sementara harapan untuk memperoleh penanganan yang lebih memadai terasa kian jauh.

Pengalaman ini menyisakan pertanyaan yang menyakitkan tentang bagaimana keluarga miskin memperoleh hak atas pelayanan kesehatan yang layak, seolah-olah kemiskinan membuat seseorang harus menerima sakit dan penderitaannya tanpa pilihan yang berarti. Kepulangan Mbah Rajak dari fasilitas kesehatan, sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Turen, meninggalkan kesan yang mendalam tentang kemungkinan terjadinya penelantaran, meskipun penilaian atas tindakan medis yang diberikan tentu memerlukan informasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Ironi ini terasa semakin menyayat ketika mengingat bagaimana Mbah Rajak memperlakukan tanaman-tanamannya di Tegal Wetan: setiap batang diperhatikan, setiap jengkal tanah dirawat, dan setiap tanaman diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kebutuhannya.

Merawat seperti besok kamu akan pergi

Namun, ketika tubuh Mbah Rajak sendiri berada dalam keadaan rapuh dan membutuhkan pertolongan, muncul pertanyaan mendasar: mengapa kepedulian yang begitu nyata dalam merawat kehidupan di ladang seolah tidak hadir dengan kekuatan yang sama ketika yang harus dirawat adalah seorang manusia? Kepergian Mbah Rajak menjadikan pertanyaan itu bukan sekadar ungkapan duka, melainkan juga gugatan moral tentang martabat manusia, keadilan pelayanan kesehatan, dan tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi alasan bagi siapa pun untuk kehilangan hak atas perawatan yang manusiawi.

Kepulangan Mbah Rajak, meninggalkan kesan mendalam tentang pengabaian terhadap kebutuhan dasar warga negara untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi. Berdasarkan pengalaman yang disaksikan dan informasi yang diterima keluarga, ruang rawat inap terasa penuh sesak, sementara obat-obatan yang dibutuhkan untuk penanganan sakitnya tidak tampak disiapkan secara memadai. Selama lima hari perawatan, keluarga juga merasakan minimnya pemantauan medis; jika benar tenaga medis hanya datang satu kali dalam tiga hari, maka dalam rentang lima hari tersebut terdapat dua hari tanpa kunjungan yang mereka harapkan untuk memantau perkembangan kondisi Mbah Rajak.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang mutu pelayanan, kesinambungan observasi, dan tanggung jawab fasilitas kesehatan dalam memastikan pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya. Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, pengalaman semacam ini dapat terasa seperti pesan pahit bahwa hak untuk sehat tidak selalu hadir sebagai kenyataan yang dapat diandalkan, meskipun secara prinsip merupakan hak setiap warga negara. Karena itu, kepulangan Mbah Rajak tidak hanya menyisakan duka atas kehilangan seseorang yang begitu tekun merawat kehidupan di Tegal Wetan, tetapi juga kegelisahan moral tentang bagaimana manusia yang sedang sakit dan lemah diperlakukan oleh sistem yang seharusnya melindunginya.

Ketika seseorang yang tidak berdaya hanya dapat menunggu pertolongan, pelayanan kesehatan semestinya hadir bukan sekadar melalui prosedur administratif. Seharusnya dilayani melalui pemeriksaan yang memadai, pemantauan yang berkesinambungan, dan kepedulian yang menjaga martabat manusia. Pengalaman ini layak menjadi bahan evaluasi serius, dengan tetap membedakan kesaksian keluarga dari kesimpulan medis atau hukum mengenai dugaan pengabaian pelayanan.

Malam itu, saya datang menjenguk Mbah Rajak. Suaranya terdengar lemah, jauh berbeda dari suara lembut nan tegas yang selama ini saya kenal, meskipun wajahnya masih menyimpan garis-garis keteguhan dan kekuatan seperti biasanya. Saya teringat bagaimana Mbah Rajak dahulu memperjuangkan agar air dapat mengalir sampai ke Dusun Ngemplak, dengan kegigihan dan keberanian untuk memperjuangkan kebutuhan hidup warga. Sosok yang biasanya berbicara dengan penuh keyakinan itu kini terbaring lemah, mengucapkan kata-kata dengan suara lirih yang entah mengapa terasa seperti sebuah pamitan.

Saya berusaha mendengarkan, tetapi hati terasa sesak menyaksikan keadaannya. Ada perasaan tak tega yang sulit diungkapkan dengan kata-kata; seolah-olah saya sedang menyaksikan seorang pejuang kehidupan yang perlahan kehilangan kekuatannya, sementara keteguhan hatinya masih tetap terpancar dari wajahnya. Malam itu, saya tidak tahu bahwa perjumpaan tersebut akan menjadi kenangan terakhir bersama Mbah Rajak. Saya hanya merasakan kesedihan yang mendalam, melihat seseorang yang selama ini begitu kuat memperjuangkan kehidupan orang lain kini berada dalam keadaan yang begitu rapuh. Dan sore berikutnya, kabar kepergiannya datang, meninggalkan kenangan tentang seorang lelaki yang tidak banyak menuntut kehidupan, tetapi telah memberikan begitu banyak melalui kerja, kepedulian, dan perjuangannya bagi sesama.

Jika tanaman saja dirawat sesuai dengan watak, kebutuhan, dan waktu tumbuhnya, sebagaimana Mbah Rajak merawat setiap jengkal Tegal Wetan dengan penuh perhatian, mengapa negara tidak mampu memelihara anak-anaknya sendiri sesuai dengan martabat dan hak dasar mereka sebagai manusia? Mbah Rajak memahami bahwa setiap tanaman membutuhkan perlakuan yang berbeda agar dapat tumbuh dengan baik; tanah harus diolah, akar dijaga, dan kehidupan dirawat dengan kesabaran. Namun, ketika seorang manusia jatuh sakit dan berada dalam keadaan paling lemah, semestinya negara hadir dengan kepedulian yang sama, memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang kemiskinannya, memperoleh pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi.

Kepergian Mbah Rajak meninggalkan duka sekaligus gugatan: jangan sampai tanah yang kita rawat lebih sungguh-sungguh dari pada manusia yang hidup di atasnya. Selamat berpulang, Mbah Jak. Engkau telah menghidupkan kembali tegal yang semula terbengkalai, memperjuangkan air bagi warga Ngemplak, dan mengajarkan arti ngopeni melalui kerja nyata. Kini, ketika tanganmu tak lagi mencangkul tanah dan merawat tanaman, jejak kehidupan yang kau tinggalkan akan terus tumbuh menjadi pengingat bahwa merawat kehidupan bukan sekadar kearifan leluhur, melainkan tanggung jawab kemanusiaan yang seharusnya dijalankan oleh kita semua, termasuk negara.

*) Penulis: Pietra Widiadi Founder Pendopo Kembangkopi Malang, Pendiri Drive Innovation for Alternative Livelihood Foundation (Dial Foundation). pejalan tradisi Jawa, dan Sosiolog alumni Unair
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Ketika Serangan Siber Bisa Melumpuhkan Dunia Nyata: Indonesia Harus Waspada & Membangun Ketahanan Digital

17 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Insiden Gubernur Koster dan Pegawai SPBU Bali, Krisis Komunikasi Pimpinan di Tengah Krisis BBM

17 Oktober 2026 - 07:08 WIB

Krisis Karhutla dan Lima Kegagalan Komunikasi Krisis, Ketika Pemerintah Justru Sibuk Membela Diri

13 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Putusan MK tentang Ijazah Gibran: Ketika Kepastian Jabatan Berhadapan dengan Kepastian Hukum

9 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Tata Kelola Organisasi Profesi yang Guyub, Rukun, dan Berjiwa Seduluran

4 Oktober 2026 - 00:45 WIB

G30S/PKI dalam Cermin Hukum: Antara Kepastian, Keadilan, dan Impunitas yang Belum Selesai

30 September 2026 - 11:42 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !