BACAMALANG.COM-Kekayaan musik tradisional Nusantara menyimpan kisah yang tidak selalu terdengar. Di balik getaran instrumen dari bambu yang disebut sebagai harpa mulut yang sederhana, tersimpan hubungan antara manusia, alam, tradisi pertanian, spiritualitas, hingga bahasa. Namun, keberadaan instrumen tradisional ini menghadapi tantangan regenerasi yang mengkhawatirkan.
Kegelisahan tersebut menjadi salah satu perhatian DZ Sandyarto, S.T., atau yang dikenal sebagai Bejo Sandy, dalam buku “Harpa Mulut Nusantara di Jawa dan Bali: Studi Teknik, Ragam dan Konteks Budaya (Sebuah Kajian Etnomusikologi)”, yang resmi diluncurkan bertepatan dengan Hari Kebudayaan Nasional di Sareng Indonesian Culinary, Jl. Merbabu No. 30, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Sabtu (17/10/2026).
Berbekal pengalaman dan pengamatan selama lebih dari 10 tahun, Bejo Sandy melakukan penelitian intensif selama enam bulan, sejak April hingga September 2026. Kajian tersebut melibatkan 46 narasumber yang terdiri atas maestro dan perajin harpa mulut di berbagai wilayah Jawa dan Bali.
“Dari penelitian lapangan itu, ada temuan yang memprihatinkan. Sekitar 10 maestro menyampaikan kekhawatiran bahwa mereka merupakan “generasi terakhir” yang masih menekuni tradisi tersebut,” ungkap pria kelahiran Ambon ini.
Menurut Bejo, persoalan regenerasi bukan semata-mata berkaitan dengan berkurangnya pemain. Jumlah orang yang mampu membuat instrumen sekaligus memahami dan menceritakan sejarahnya juga sangat terbatas. Padahal, keberlanjutan tradisi musik tidak hanya bergantung pada kemampuan memainkan alat musik, tetapi juga pada pengetahuan tentang cara pembuatannya dan konteks budaya yang melahirkannya.
Perjalanan Bejo Sandy bersama instrumen harpa mulut Nusantara ini berakar dari pengalamannya berpindah-pindah daerah sejak kecil. Kecintaannya pada alat musik tradisional ini tumbuh secara bertahap. Ia pertama kali mengenali karinding (Jawa Barat) saat duduk di bangku Sekolah Dasar, kemudian mengenal pikon saat tinggal di wilayah timur (Papua), hingga akhirnya mendalami genggong di Bali. Sampai menemukan rinding justru saat ia menjalani kehidupan di Malang.
“Mendengarkan lantunan karinding, rinding, atau genggong, sejatinya adalah melampaui batas apresiasi seni fisik murni. Di balik wujudnya yang ringkas, sebilah bambu atau aren purba ternyata menyimpan rahasia peradaban agraris yang maha luas. Saya mencoba membongkar bagaimana instrumen mikro nusantara bertindak sebagai perangkat bioakustik yang jenius, sebuah gawai spiritual kuno yang menyatukan frekuensi batin manusia dengan ritme alam semesta,” papar pria yang juga pegiat musik dan teater ini.

Para undangan dari berbagai kalangan saat menghadiri peluncuran buku “Harpa Mulut Nusantara di Jawa dan Bali: Studi Teknik, Ragam dan Konteks Budaya (Sebuah Kajian Etnomusikologi)”, di Sareng Indonesian Culinary, Jl. Merbabu No. 30, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Sabtu (17/10/2026). (Nedi Putra AW)
Ia menambahkan, bahwa melalui lensa etnomusikologi dan analisis teknologi modern, coretan seorang tukang bambu ini melacak manifesto tradisi dari pematang persawahan Pasundan, lanskap gersang kapur Selatan Jawa, hingga panggung komunal di Tanah Dewata.
“Lebih dari sekadar dokumentasi masa lalu, lembar-lembar ini mengupas transformasi radikal harpa mulut Nusantara yang berhasil meretas panggung festival cerdas underground hingga melebur ke dalam kabel-kabel efek musik elektronik abad ke-21,” tegas pria yang sempat terlibat dalam film komedi pendek bertajuk “Bowoh” ini.
Buku setebal kurang lebih 236 halaman ini, imbuh Bejo, hadir sebagai manifestasi kebudayaan yang menolak senyap di tengah ancaman krisis ekologis bahan baku alam, di tengah bisingnya peradaban modern, petikan lirik instrumen mikro menawarkan sebuah meditasi organik bagi jiwa manusia.
“Sebuah pengingat abadi dari petuah sakral sang maestro pelosok pedalaman bahwa maju-mundur, naik-turun martabat suatu bangsa, sesungguhnya dapat dilihat dan diukur dari bagaimana bangsa tersebut memperlakukan kebudayaannya. Selamat merawat bunyi dan selamanya menolak senyap,” tegasnya.
Peluncuran buku yang menjadi bagian dari program Kajian OPK-CB Dana Indonesiana 2025 ini dihadiri sejumlah undangan, seperti Kepala Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang Yayuk Hermiati, perwakilan tuan rumah Sareng, penerbit Litnus, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Firmando H. Matondang, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Malang, Lurah Karangbesuki, Kecamatan Sukun, dan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki, serta Tim Manajemen Pelaksana Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI.
Acara juga diisi dengan pemutaran film dokumenter penyusunan buku “Harpa Mulut Nusantara di Jawa dan Bali: Studi Teknik, Ragam dan Konteks Budaya (Sebuah Kajian Etnomusikologi)” yang dilanjutkan sesi bedah buku dan diskusi interaktif yang dipandu M. Bagus Fammi, bersama penulis Bejo Sandy yang menghadirkan narasumber Wakidjo Djoni serta penulis dan pemerhati sejarah Agung H Buana.
Agung H. Buana menyampaikan, instrumen harpa mulut Nusantara seperti rinding atau karinding ini membawa nilai filosofis yang sangat mendalam. Jika di belahan dunia Barat instrumen musik kerap dipandang secara sangat matematis dan logis, di tangan masyarakat Nusantara sebilah bambu bertransformasi menjadi sarana penyerap energi alam.
“Instrumen ini merepresentasikan kebudayaan agraris yang menjunjung tinggi keseimbangan—baik keseimbangan dengan alam semesta, keseimbangan kehidupan pribadi, maupun keseimbangan dengan lingkungan sekitar. Lebih jauh lagi, resonansi bunyi yang dihasilkan rinding secara tradisional juga memiliki keterikatan organik dengan lingkungan pertanian dan penanganan hama lokal. Karya mas Bejo Sandy ikni saya nilai berhasil mengembalikan energi alam tersebut untuk menyapa masyarakat melalui pendekatan batin yang lebih dalam,” ungkap inisiator gerakan literasi “Balai Kota Menulis” di Kota Malang ini.

Diskusi interaktif yang dipandu M. Bagus Fammi, bersama penulis Bejo Sandy yang menghadirkan narasumber Wakidjo Djoni serta penulis dan pemerhati sejarah Agung H Buana. (Nedi Putra AW)
Sebagai sahabat dan sesama pemerhati budaya, Agung H. Buana memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap buku “Harpa Mulut Nusantara Di Jawa Dan Bali” ini.
“Meskipun mas Bejo selalu merendah dengan menyebut dirinya sekadar “tukang bambu”, karya ini tetap saya nilai memiliki bobot ilmiah yang amat berkelas. Sistematika penulisannya disusun dengan gaya akademis yang sangat terstruktur, terdiri dari 5 bagian utama dan 10 bab pembahasan dalam total 236 halaman,” paparnya.
Menurut Agung, kedalaman materi, riset, serta metodologi yang disajikan tidak sekadar sekelas karya lokal, melainkan memiliki standar kualitas ilmiah internasional yang setara dengan riset tingkat doktoral atau S3.
“Keberhasilan Bejo Sandy dalam mengeksplorasi dan menghidupkan kembali rinding selama 10 tahun bukan hanya bentuk eksplorasi bunyi, tetapi juga sebuah pementasan “nyawa” dan refleksi perjalanan spiritualnya dalam merawat tradisi Nusantara yang kian senyap,” tandas penulis buku “Sejarah Ketawanggede” ini.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































