Oleh : Dr Riyanto*
Serpihan kecil, surga jatuh di bumi.
Ijo royo – royo, samudera luas, padang gersang, aliran berkelok bening airnya, Tamansari.
Dari ujung timur, tengah, ujung barat, manusia berkhidmat. Hitam, putih, sawo matang.
Bhinneka Tunggal Eka, tan hana dharma mangrwa.
Papua gagah perkasa. Perang demi peperangan jadi tontonan
Batak cerita lantang. Jawa tampak tidak punya pegangan.
Ribuan nilai berpilin dalam kesatuan bangsa.
Dadap, Randu Gumbala. Pigai, Matulessy, Tuan Guru Bajang, Nyoman Kendit hidup bersama.
“Aku Suto !
Sambil menepuk dada. Dari Jawa Timur, bangsa Nusantara.
“Bukan !, itu dadamu.
Naya melihat, masing – masing bagian punya nama. Kening, pipi, mata, mulut, dan gigi.
Naya bercerita. Bangsa ini tidak pernah memahami.
Pertapaan di kelok hilir sungai, dirangkul hutan lebat, belum terjamah manusia, “Boven Digoel Papua …..
Juga Gua Banceuy, Sukamiskin, Bengkulu, Bangka, dan Brastagi.
Tujuh Al A’rob, puncak tertinggi kehidupan.
Pemahaman Pancasila manusia, dibuka.
0. Ruh, tiupan hidup dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
0. Rasa, sensitivitas alam semesta.
0. Hati, cermin pahala dan dosa.
0. Akal budaya …..
0. Nafsu, potensi baik dan angkara murka.
Pancasila, lima karakter potensi kekuatan manusia.
PPKI, BPUPKI mengejawantahkan dalam kalimat indah untuk dunia. Untuk menamai potensi milik manusia. Untuk mengingatkan, di dalam jasad ada gumpalan-gumpalan potensi kekuatan merengkuh kesemestaan.
Dari sana Pancasila diturunkan, ditemukan, dikobarkan sebagai berkat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dzat yang patut kita untuk ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Segala sumber:
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia …..
Bukan semata kalian yang memerdekakan, tapi berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan semata Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi budi pekerti luhur bangsa Nusantara. Tuhan selalu mengikuti keinginan hamba – hamba-Nya.
Pancasila tidak ada, karena dalam genggaman Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Pancasila ada karena harus mengejawantah dalam “memayungi” kehidupan berbangsa bernegara.
Pancasila Merdika ……
Dua kata sansekerta, merdi dan dika. Cerdas/ pintar dan jujur/ budi luhur.
Manusia Pancasila, mereka yang cerdas didasarkan kejujuran menjalani kehidupan.
Agama memerintahkan, “jagalah dirimu, jagalah keluargamu, dari jilatan api neraka.
Pertanyaannya, bagaimana cara mengajarkannya ?
??????
Dirgahayu Republik Indonesia
Ki Riyanto Hanggendali, Universitas Brawijaya …..
*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.






















































