Oleh : Dr Riyanto M.Hum*
Gotong royong …..
Mengumpulkan minum dan makanan. Membawa sabit, cangkul, dan parang.
Tamunya datang. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
ABRI masuk desa …..
Kini tinggal kenangan.
Sejak diterbitkannya Instruksi presiden Nomor 2 tahun 1999, praktis kepolisian berpisah dari rengkuhan Panglima ABRI.
Reformasi makan bapaknya sendiri.
Beberapa hari lalu, tangisan Kapolri, kini tangisan hati seorang menteri.
“Ibu pertiwi sedang diperkosa, ….. !
Suara geram, Menteri Pertahanan dan Keamanan
Mengingatkan lancangnya brigadir Je terhadap sang putri. Meskipun konon tidak terbukti.
Ibarat memelihara “gogor”, kini menjadi macan.
Siapa yang berjasa ?
Tentu pawangnya.
Siapa pawangnya ?
Tentu bukan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, juga bukan TNI …..
Seperti novel Abdoel Moeis, “Salah Asuhan.
Hanafi dalam persimpangan. Tingkah lakunya tidak diterima oleh Barat, ditolak oleh budayanya sendiri.
Demikian Polri. Dididik profesional, ditolak ikut bertempur. Fokus ngurusi gejolak masyarakatnya sendiri.
Untuk apa latihan menembak dengan SS, Glock, atau SPR/ Senapan Penembak Runduk jangkauan berkilometer. Untuk apa seragam doreng itu.
Ferdy Sambo menemukan jalan buntu.
Seperti “Macan, mencakar pemburunya sendiri.
Ferdy Sambo contoh didikan polisi pasca reformasi.
Seperti Putin, berhasil membuat jaringan. Mengumpulkan uang dari gas bumi. Membunuh musuh, kadang mengorbankan tentaranya sendiri. Kalau perlu perang dunia dimulai.
“Apakah saya salah ?
“Saya tidak mengatakan salah.
“Menghukum mati …
“Menurut saya, kamu “bener nanging ora pener !
Ferdy Sambo tampak bersemangat. Duduknya bergeser, merapat. Ada yang membenarkan strategi perangnya.
“Kamu ini benar, tapi tidak tepat !
Perangmu harusnya untuk negara. Pestolmu untuk menembak angkara murka. Tumpukan uangmu membantu si miskin papa.
Sambo anggota cerdas, menguasai medan laga. Bahkan melompat seperti Kijang melampaui kakak kelasnya. Tidak ada anggota yang salah, kecuali komandannya. Tidak ada komandan yang salah, kecuali, departemen yang menaunginya.
“Saya harus bagaimana ?
“Jalan hidupmu adalah tulisan Tuhan. Ini juga buah dari perjuangan. Berdo’alah, jangan lupa, diakhir kalimat, tersenyumlah, seraya mengatakan, “Tuhan, tugas berat sudah saya laksanakan …..
Jeruji besi ditutup kembali. Semua yang keterlaluan, pasti mencelakai.
Menanam angin menuai badai.
“Bareskrim jangan ragu-ragu. Nggak ada beking-beking. Kita cabut samua.
Suara pak Luhut Binsar Panjaitan. Keras membangunkan …..
*?? Dirgahayu Republik Indonesia.
*Dunia ini panggung sandiwara (Godbless)
*) Dr Riyanto, M.Hum, Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang.
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.






















































