BACAMALANG.COM – Empat nelayan dilaporkan hilang setelah kapal sekoci KMN Albakor 01 yang mereka tumpangi tidak kembali ke darat. Kapal tersebut terakhir terlihat memancing di sekitar rumpon pinggir dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Gelombang di Samudra Hindia disebut sulit diprediksi, terutama saat musim angin selatan masih berlangsung. Para nelayan tetap melaut demi memenuhi kebutuhan ekonomi, meski risiko yang dihadapi sangat besar.
KMN Albakor 01 milik Jumianto, warga Dusun Sendang Biru, berangkat dari Pelabuhan Sendang Biru pada Rabu, 10 September 2025. Biasanya kapal sekoci melaut selama tujuh hingga empat belas hari, namun kapal tersebut telah lebih dari dua puluh hari tidak kembali dan dinyatakan hilang kontak.
Barang-barang yang diduga milik kapal ditemukan mengambang di perairan Pantai Bantol dan Nganteb. Temuan berupa jeriken berisi solar dan box ikan itu memperkuat dugaan bahwa kapal mengalami kecelakaan laut.
Empat awak kapal yang belum ditemukan adalah Jumianto (56), nahkoda, warga Dusun Sendang Biru; Arifin (40), anak buah kapal, warga Dusun Sendang Biru; Dafit (45), anak buah kapal, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang; dan Irfan (20), anak buah kapal, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Informasi dari nelayan lain menyebutkan bahwa KMN Albakor 01 sempat bertemu dengan KMN Gangsar Jaya pada malam hari di tanggal keberangkatan. Setelah itu, tidak ada lagi kabar.
Hingga Rabu siang, sedikitnya delapan sekoci dikerahkan untuk menyisir perairan bersama tim gabungan dari TNI AL, Basarnas, Satpolairud, dan kelompok nelayan tradisional. Pos AL Sendang Biru juga memperluas area pemantauan.
Kasatpolairud Polres Malang, AKP Yoyok Supandi, membenarkan laporan hilangnya kapal tersebut. Ia mengatakan bahwa satu nahkoda dan tiga awak kapal dinyatakan hilang kontak, dan upaya pencarian masih terus dilakukan.
“Satu nahkoda dan tiga awak kapal dinyatakan hilang kontak. Upaya pencarian masih terus dilakukan,” ujarnya.
Situasi di pelabuhan nelayan penuh dengan harapan dan kecemasan. Keluarga korban memilih menunggu di dermaga dan posko nelayan, berharap ada kabar baik dari laut.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































