Biaya Penyakit Jantung Tembus Rp100 Triliun, BPJS Kesehatan Dorong Gaya Hidup Sehat Sejak Muda - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 30 Sep 2026 19:32 WIB ·

Biaya Penyakit Jantung Tembus Rp100 Triliun, BPJS Kesehatan Dorong Gaya Hidup Sehat Sejak Muda


 Senam Jantung Sehat dalam peringatan Hari Jantung Sedunia di Mini Block Office Kota Malang akhir pekan lalu. (Nedi Putra AW) 
Perbesar

Senam Jantung Sehat dalam peringatan Hari Jantung Sedunia di Mini Block Office Kota Malang akhir pekan lalu. (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit kronis dengan biaya penjaminan terbesar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sepanjang 2015 hingga 2025, BPJS Kesehatan mencatat telah mengeluarkan lebih dari Rp100 triliun untuk membiayai 172,3 juta kasus penyakit jantung.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengatakan jumlah kasus dan biaya pelayanan penyakit jantung menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan jumlah peserta JKN turut berdampak pada meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan untuk penyakit jantung.

“Seiring dengan bertumbuhnya jumlah peserta, pemanfaatan Program JKN untuk membiayai penyakit jantung juga ikut bertambah. Tahun 2015, ada 4,6 juta kasus penyakit jantung yang ditanggung BPJS Kesehatan dengan biaya sebesar Rp4,4 triliun. Angka tersebut terus bergerak naik hingga pada tahun 2025 jumlahnya mencapai 29,8 juta kasus dan menyedot biaya BPJS Kesehatan hingga Rp17,4 triliun,” kata Rizzky, Selasa (29/9/2026).

Jika dibandingkan dengan sejumlah penyakit kronis lainnya, seperti gagal ginjal, stroke, dan kanker, penyakit jantung menjadi penyakit dengan pembiayaan terbesar yang ditanggung BPJS Kesehatan.

Dalam periode 2015–2025, pembiayaan penyakit gagal ginjal mencapai Rp83,8 triliun untuk 81,2 juta kasus. Sementara itu, kanker menempati urutan berikutnya dengan total pembiayaan Rp66 triliun untuk sekitar 45 juta kasus.

Rizzky juga menyampaikan bahwa penyakit katastropik secara keseluruhan menyerap porsi besar pembiayaan pelayanan kesehatan. Pada 2025, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp50,3 triliun untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit katastropik, termasuk penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan penyakit lainnya.

Jumlah tersebut setara dengan 26,42 persen dari total biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan pada tahun tersebut.

Menurut Rizzky, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya upaya promotif dan preventif. Sebab, sejumlah penyakit kronis memiliki faktor risiko yang dapat ditekan melalui penerapan pola hidup sehat dan deteksi dini secara rutin.

Memperingati Hari Jantung Sedunia, BPJS Kesehatan pun mengajak masyarakat mulai memperhatikan kesehatan sejak usia muda. Hal ini penting karena penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya yang selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok lanjut usia, kini juga semakin banyak ditemukan pada usia produktif.

Sebagai salah satu upaya pencegahan, BPJS Kesehatan menggagas Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda yang menyasar masyarakat berusia di bawah 45 tahun. Program tersebut melibatkan komunitas masyarakat, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan Program JKN untuk memperkuat gerakan promotif dan preventif.

“Mengadopsi pola hidup sehat dan aktif berolahraga adalah investasi terbaik untuk masa depan kesehatan kita lima atau sepuluh tahun mendatang. Yang penting ada komitmen dan konsistensi diri sendiri,” ujar Rizzky.

Selain menerapkan pola hidup sehat, masyarakat juga diimbau memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang disediakan BPJS Kesehatan. Layanan tersebut dapat digunakan peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan satu kali dalam setahun untuk membantu mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini.

Skrining dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, situs resmi BPJS Kesehatan, maupun secara langsung di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar.

Dalam proses skrining, peserta akan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai gaya hidup, riwayat penyakit pribadi, serta riwayat kesehatan keluarga. Prosesnya relatif singkat, sekitar 5–10 menit.

“Makin cepat terdeteksi, makin cepat diantisipasi dan ditangani. Jangan lupa juga, selagi masih sehat, sempatkanlah untuk mengecek status kepesertaan JKN Anda,” pesan Rizzky.

Ia menambahkan, memastikan kepesertaan JKN tetap aktif menjadi bagian penting dalam mempersiapkan perlindungan kesehatan. Dengan kepesertaan yang aktif, peserta memiliki kepastian jaminan pembiayaan ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

Skrining awal penyakit jantung sebagai rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia di Mini Block Office Kota Malang akhir pekan lalu. (Nedi Putra AW)

Sementara Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Hernina Agustin Arifin, menyampaikan, tingginya pemanfaatan Program JKN untuk pelayanan penyakit jantung menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan sekaligus mengenali faktor risiko sejak dini.

“Program JKN hadir memberikan perlindungan ketika peserta membutuhkan pelayanan kesehatan. Namun, kami tentu berharap masyarakat tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatannya. Penyakit jantung dapat menyerang siapa saja, termasuk masyarakat usia produktif. Karena itu, upaya promotif dan preventif harus terus kita kuatkan,” ujar wanita yang akrab disapa Ina tersebut, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, langkah pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, rutin melakukan aktivitas fisik, menghindari rokok, serta memeriksakan kesehatan secara berkala.

“Peserta JKN berusia 15 tahun ke atas juga dapat memanfaatkan Skrining Riwayat Kesehatan satu kali dalam setahun. Layanan ini menjadi salah satu upaya untuk membantu peserta mengetahui potensi risiko penyakit kronis sejak dini. Skrining dapat diakses melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan PANDAWA di nomor 08118165165, maupun melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar. Dalam prosesnya, peserta akan menjawab sejumlah pertanyaan terkait gaya hidup, riwayat penyakit pribadi, serta riwayat kesehatan keluarga sebagai langkah awal untuk mengenali faktor risiko penyakit,” urainya.

Ina menegaskan, bahwa semakin dini risiko diketahui, semakin besar kesempatan untuk melakukan perubahan gaya hidup maupun mendapatkan tindak lanjut yang tepat.

“Menjaga jantung harus dimulai sejak kita masih sehat,” tukas Ina.

Ia juga mengingatkan peserta untuk memastikan kepesertaan JKN tetap aktif. Dengan demikian, ketika membutuhkan pelayanan kesehatan, peserta dapat mengakses layanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pentingnya perlindungan kesehatan melalui Program JKN turut dirasakan Hadi Susila (61), peserta JKN yang tengah menjalani perawatan setelah mengalami serangan jantung.

Saat ditemui di rumah sakit dengan didampingi sang istri, Hadi mengaku tidak pernah menyangka keluhan kesehatan yang dialaminya akan berujung pada serangan jantung hingga membutuhkan penanganan medis.

“Sebelumnya saya tidak menyangka akan mengalami serangan jantung. Ketika dokter menyampaikan kondisi saya, tentu ada rasa kaget dan khawatir. Alhamdulillah, saya segera mendapatkan penanganan dan selama menjalani perawatan menggunakan JKN, pelayanan yang saya terima berjalan dengan baik,” ungkap Hadi.

Selama menjalani perawatan, sang istri setia mendampingi dan menjadi sumber kekuatan bagi Hadi. Dukungan keluarga, menurutnya, memberikan ketenangan tersendiri dalam menjalani proses pemulihan.

Pengalaman tersebut juga membuat Hadi semakin menyadari pentingnya tidak mengabaikan keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan jantung.

“Sekarang saya semakin sadar bahwa kesehatan tidak boleh dianggap sepele. Kalau ada keluhan, sebaiknya segera diperiksakan. Saya juga bersyukur kepesertaan JKN saya aktif sehingga saat kondisi seperti ini datang, kami sekeluarga bisa lebih fokus pada pengobatan dan pemulihan,” pungkas Hadi.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Takut Keselamatan Terancam, Pemilik Warung Nasi Goreng di Kota Batu Tempuh Jalur Hukum

30 September 2026 - 18:21 WIB

Kadernya Terlibat Penyalahgunaan Narkoba, Gerindra Kabupaten Malang Hormati Proses Hukum

30 September 2026 - 16:49 WIB

Relawan Malang Berangkat Mandiri, Salurkan Bantuan Terdampak Bencana NTT

30 September 2026 - 13:59 WIB

Kronologi Penangkapan Anggota DPRD Kabupaten Malang yang Diduga Terlibat Penyalahgunaan Narkoba di Surabaya

30 September 2026 - 13:28 WIB

Gerindra Pastikan Tak Ada Toleransi Kader yang Terbukti Melawan Hukum

30 September 2026 - 13:02 WIB

Kekeringan Meluas, BPBD Kabupaten Malang Salurkan 3,1 Juta Liter Air Bersih ke 13 Desa

30 September 2026 - 12:57 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !