Hari Santri Nasional di Wonosari Tekankan Persatuan, Pengibar Bendera Non-Muslim hingga Doa Berbahasa Jawa Curi Perhatian - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 22 Okt 2026 20:31 WIB ·

Hari Santri Nasional di Wonosari Tekankan Persatuan, Pengibar Bendera Non-Muslim hingga Doa Berbahasa Jawa Curi Perhatian


 Suasana khidmat dan sakral mewarnai upacara HSN 2026 di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, menjadi simbol persatuan, di mana pengibar bendera non-muslim serta pembacaan doa menggunakan bahasa Jawa. (ist) Perbesar

Suasana khidmat dan sakral mewarnai upacara HSN 2026 di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, menjadi simbol persatuan, di mana pengibar bendera non-muslim serta pembacaan doa menggunakan bahasa Jawa. (ist)

BACAMALANG.COM – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, berlangsung dengan nuansa kebangsaan dan kearifan lokal. Upacara yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Wonosari di Lapangan Dusun Arjomulyo, Desa Bangelan, Kamis (22/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keterlibatan empat siswa SMKN 1 Wonosari yang beragama non-Muslim sebagai petugas pengibar bendera Merah Putih. Partisipasi tersebut mencerminkan semangat kebangsaan yang menyatukan masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.

Nuansa budaya lokal juga mewarnai pelaksanaan upacara. Sejumlah petugas mengenakan surjan Jawa, yang merepresentasikan kedekatan tradisi lokal dengan kehidupan masyarakat santri. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan, budaya, dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kearifan lokal semakin terasa ketika doa dipimpin Ustaz Anut Eko Wiyono menggunakan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa daerah dalam doa tersebut menghadirkan suasana yang akrab sekaligus menegaskan bahwa tradisi lokal dapat menjadi bagian dari ekspresi keagamaan.

Ketua PAC GP Ansor Wonosari, Gus Mohamad Saiful Anwar, bersama Kasatkoryon Banser Wonosari yang juga Ketua Lesbumi NU MWC Wonosari, Sahabat Joko Susanto, memandang peringatan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai kesantrian sebagai perekat kehidupan sosial.

Upacara yang berlangsung pukul 07.30 hingga 09.00 WIB tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintahan di Kecamatan Wonosari.

Peserta terdiri atas Banser, Fatayat NU, Muslimat NU, guru madrasah diniyah, guru taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kecamatan Wonosari, para modin, jamaah tahlil, serta pelajar dari SMKN 1 Wonosari, MI Plandi, MI Selobekiti, MI Tumpangrejo, MTs Patuk, MTs Selobekiti, dan SD Tanaka.

Hadir pula unsur TNI-Polri, para kepala desa dan perangkat desa se-Kecamatan Wonosari, serta relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).

Bertindak sebagai inspektur upacara, Camat Wonosari Alam Kuncoro Wisnu Aji, S.IP., M.Si., turut menyampaikan gagasan penguatan peran Banser melalui program SADEWO (Satu Desa Sepuluh Banser Untuk Wonosari).

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia Banser di setiap desa sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari pengamanan kegiatan, penanganan tanggap bencana, hingga aktivitas sosial dan kesehatan.

Untuk mendukung pelaksanaannya, Camat Wonosari mengimbau seluruh kepala desa agar bersinergi dengan PAC GP Ansor dan Kasatkoryon Banser.

“Keberadaan Banser harus kita dorong menjadi mitra strategis pemerintah, tidak hanya untuk kegiatan keagamaan, tetapi untuk pengabdian nyata kepada masyarakat,” ujar Alam Kuncoro Wisnu Aji.

Melalui program SADEWO, semangat Hari Santri 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas” diharapkan dapat diwujudkan melalui aksi nyata di tingkat desa. Kolaborasi lintas unsur, kesiapsiagaan, dan pengabdian sosial menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kebakaran TPA Supit Urang, Kapolresta Malang Kota Kerahkan AWC dan Bagikan Masker ke Warga

22 Oktober 2026 - 20:44 WIB

Modus Kencan hingga Pura-pura Beli Bensin, URC Polres Malang Tangkap Terduga Spesialis Curanmor

22 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Pengelolaan TKD Tak Sesuai Prosedur, Komisi I DPRD Kabupaten Malang Minta Inspektorat Turun Tangan

22 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Kapolres Malang Temui Warga Sengguruh, Keluhan Lalu Lintas hingga Pertanian Mengemuka

22 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Kekeringan Melanda 15 Desa, BPBD Kabupaten Malang Salurkan 5,3 Juta Liter Air Bersih

22 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Dukung Perlindungan Pers, Mardi Setia Ningsih Siapkan Pendampingan Hukum bagi Jurnalis

22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !