BACAMALANG.COM – Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite selama sepekan terakhir mulai membebani pengemudi ojek online (ojol) di Kepanjen, Kabupaten Malang. Selain harus mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), mereka juga menghadapi ancaman penurunan pendapatan akibat terpaksa menggunakan BBM yang lebih mahal.
Bagi para pengemudi ojol, Pertalite menjadi pilihan utama untuk menekan biaya operasional. Ketika stok sulit ditemukan, mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit: beralih ke Pertamax dengan harga lebih tinggi atau menghabiskan waktu di antrean SPBU demi mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Kondisi ini dirasakan Lambang (51), pengemudi ojol mitra Grab asal Kepanjen. Ia mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite, baik di kios penjual BBM eceran maupun di SPBU, dalam sepekan terakhir.
Menurut Lambang, perbedaan harga kedua jenis BBM itu sangat berpengaruh terhadap penghasilan pengemudi ojol yang setiap hari harus mengejar jumlah pesanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di kios eceran, Pertalite dijual dengan harga hingga Rp12.000 per liter, bahkan lebih murah jika membeli langsung di SPBU. Sementara itu, Pertamax di kios eceran mencapai Rp18.000 per liter, sedangkan di SPBU Pertamina sekitar Rp16.000 per liter.
“Kalau harus Pertamax beli di eceran Rp18.000, ya paling dapat satu literan. Kalau ojol pakai Pertamax, bisa mampus lah,” ujar Lambang, Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, dengan uang Rp30.000, dirinya bisa mendapatkan sekitar tiga liter Pertalite. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menunjang aktivitasnya melayani sekitar 15 pesanan dengan tarif dasar berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per perjalanan.
Namun, jika menggunakan Pertamax, uang yang sama hanya cukup untuk membeli sekitar dua liter. Berkurangnya jumlah BBM membuatnya harus lebih membatasi aktivitas, sementara biaya operasional tetap berjalan.
Persoalan tak berhenti pada harga. Ketika Pertalite tidak tersedia di kios eceran, Lambang terpaksa mencari stok di SPBU. Ia mengaku harus mengantre setidaknya satu jam, waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menerima pesanan pelanggan.
Bagi pengemudi ojol, waktu menjadi bagian penting dalam memperoleh pendapatan. Semakin lama menunggu BBM, semakin sedikit peluang untuk mendapatkan orderan.
Lambang mengatakan, dirinya harus membawa pulang setidaknya Rp50.000 bersih setiap hari untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Target tersebut harus dicapai dengan melayani minimal 15 pesanan.
Sementara itu, kebutuhan harian selama bekerja, termasuk biaya bensin, sedikitnya mencapai Rp65.000. Pengeluaran tersebut bahkan bisa meningkat hingga Rp85.000 apabila ia harus membeli makan dua kali sehari.
Dengan kondisi tersebut, kelangkaan Pertalite menjadi beban tambahan bagi pengemudi ojol yang menggantungkan penghasilan dari jumlah perjalanan setiap hari.
Lambang berharap pasokan Pertalite segera kembali normal agar pengemudi ojol tidak terus terbebani kenaikan biaya operasional dan waktu tunggu di SPBU.
Menurutnya, selisih harga sekitar Rp6.000 per liter antara Pertalite dan Pertamax di kios eceran sangat berarti bagi pekerja sektor informal. Jika terpaksa menggunakan BBM yang lebih mahal, ia memperkirakan bisa kehilangan kesempatan menyelesaikan hingga tiga perjalanan, belum termasuk waktu yang terbuang untuk mengantre.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



















































