BACAMALANG.COM — Kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Sejumlah peristiwa yang bahkan terjadi di lokasi serupa memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi kesehatan mental mahasiswa saat ini. Fenomena ini tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan individual, melainkan cerminan problem psikologis yang lebih kompleks, terutama yang dialami mahasiswa rantau.
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, atau yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan tinggi dalam aspek adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah menuju daerah baru menuntut kesiapan mental yang tidak ringan. Tanpa dukungan sosial yang memadai, kondisi ini dapat memicu tekanan psikologis serius.
“Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” ujar Naning, Rabu (28/1/2026).
Meski tekanan akademik kerap dituding sebagai penyebab utama, Naning mengungkapkan bahwa banyak kasus yang ditangani di ruang konseling justru berakar dari lemahnya ketahanan keluarga. Masalah kuliah atau skripsi sering kali hanya menjadi pemicu, sementara beban emosional sesungguhnya sudah terbentuk sejak dari rumah.
Menurutnya, bekal utama mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan mental atau resiliensi. Tanpa mental yang terlatih menghadapi kesulitan, mahasiswa cenderung terjebak dalam pola pikir sempit saat berhadapan dengan masalah.
“Tekanan akademik itu wajar dan merupakan bagian dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf tertentu justru penting agar mahasiswa lebih fokus. Namun yang utama adalah sejauh mana seseorang dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi jatuh bangun kehidupan,” jelasnya.
Terkait fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam kasus percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sedang terdesak dan kehilangan perspektif. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai “pilihan”.
Pada titik ini, peran lingkungan dinilai sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan. Mahasiswa tidak hanya dibantu memahami masalah, tetapi juga diajak mengenali potensi diri serta sumber persoalan yang dihadapi.
“Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka punya kapasitas untuk menghadapi dan keluar dari masalahnya. Konselor hadir sebagai penguat, bukan satu-satunya tumpuan,” tegas Naning.
Ia juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara menyalurkan emosi negatif agar tidak menumpuk. Aktivitas sederhana seperti olahraga, mendengarkan musik, atau menikmati makanan favorit bisa menjadi sarana pelepas stres jika dilakukan dengan penuh kesadaran.
“Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga rahasia, serta tidak menyepelekan masalah teman adalah langkah sederhana tapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru bisa memperparah kondisi psikologis seseorang,” tandasnya.
Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi mentalnya sejak dini. Sebab, setiap masalah pada dasarnya memiliki jalan keluar, selama pikiran tidak tertutup oleh kabut keputusasaan.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































