Rambut Jagung Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa UMM Sulap Jadi Teh Artisan Bernilai Ekonomi - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 19 Sep 2026 19:27 WIB ·

Rambut Jagung Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa UMM Sulap Jadi Teh Artisan Bernilai Ekonomi


 Mahasiswa UMM menunjukkan produk inovasi berbahan rambut jagung yang diolah menjadi teh artisan untuk membantu meredakan stres. (ist) Perbesar

Mahasiswa UMM menunjukkan produk inovasi berbahan rambut jagung yang diolah menjadi teh artisan untuk membantu meredakan stres. (ist)

BACAMALANG.COM – Rambut jagung yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah dan berakhir dibuang atau dibakar, ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan rambut jagung manis menjadi teh artisan yang dipadukan dengan daun mint dan bunga melati.

Produk bernama Zeazen Herbal Tea tersebut lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan limbah pertanian sekaligus upaya menghadirkan minuman herbal dengan pengalaman konsumsi yang menenangkan.

Salah satu anggota tim, Zakiy Zamzi, mengatakan ide tersebut berawal dari banyaknya sisa panen jagung di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Dari situ kami membuat rambut jagung menjadi teh yang dapat memberikan pengalaman relaksasi bagi konsumen. Pelajar maupun pekerja setiap tahun menghadapi berbagai beban aktivitas, sehingga mereka membutuhkan ruang untuk relaksasi,” ujar Zakiy, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, Zeazen Herbal Tea tidak hanya menggunakan rambut jagung sebagai bahan utama. Tim memadukannya dengan daun mint dan bunga melati untuk menghasilkan cita rasa serta aroma yang lebih segar dan menenangkan.

Zakiy menjelaskan, rambut jagung diketahui mengandung sejumlah senyawa seperti flavonoid, termasuk maysin dan luteolin. Sementara daun mint memiliki kandungan rosmarinic acid dan mentol yang memberikan sensasi segar. Adapun bunga melati mengandung senyawa volatil seperti linalool yang turut mendukung karakter aroma produk.

“Setiap bahan memiliki karakteristik masing-masing. Kami mengombinasikannya untuk menghasilkan teh artisan yang tidak hanya menarik dari sisi rasa dan aroma, tetapi juga memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Pengembangan produk tersebut telah dilakukan sejak April 2026. Tim mahasiswa berada di bawah bimbingan dosen Teknologi Pangan UMM, Ayu Diawi, dengan perhatian khusus pada pemilihan dan pengolahan bahan baku.

Rambut jagung yang digunakan berasal dari jagung manis dari wilayah Blitar. Bahan tersebut terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dihaluskan dengan tetap mempertahankan seratnya sebelum dicampurkan dengan bahan herbal lain sesuai formula.

“Kami mendapatkan rambut jagung manis dari Blitar dalam kondisi kering. Setelah itu dihaluskan tanpa menghilangkan serat kandungannya, kemudian dicampurkan sesuai persentase formula sebelum dimasukkan ke dalam kantong teh,” ungkapnya.

Inovasi tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian bagi petani di daerah pemasok. Sebelumnya, rambut jagung manis di Desa Sragi belum memiliki nilai ekonomi dan sebagian hanya menjadi sampah di lahan pertanian.

“Rata-rata dibuang atau dibakar, sehingga tidak termanfaatkan,” kata Zakiy.

Kini, Zeazen Herbal Tea mulai memasuki tahap komersialisasi awal. Produk teh celup artisan tersebut dipasarkan dalam kemasan premium dengan harga berkisar Rp75.000 hingga Rp100.000.

Tim juga mengembangkan produk dengan konsep minuman herbal yang ditujukan untuk memberikan pengalaman konsumsi yang lebih rileks. Sejumlah konsumen perempuan, menurut tim, turut melaporkan pengalaman subjektif berupa berkurangnya rasa tidak nyaman selama siklus menstruasi setelah mengonsumsi produk tersebut.

Meski demikian, manfaat kesehatan tersebut perlu dipahami secara proporsional dan tidak dapat menggantikan pengobatan medis.

Program pengembangan Zeazen Herbal Tea mendapat pendanaan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Ke depan, tim berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai produk kewirausahaan mahasiswa. Pemanfaatan rambut jagung diharapkan dapat berkembang menjadi model pengolahan limbah pertanian yang memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mengurangi limbah di lingkungan pedesaan.

Bagi para mahasiswa, rambut jagung bukan lagi sekadar sisa panen. Dari bahan yang sebelumnya dibuang, mereka mencoba menciptakan produk baru yang menghubungkan inovasi pangan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

GMNI Kabupaten Malang Protes Label Underbow PKI di Majalah Kemenag Jatim

19 September 2026 - 14:39 WIB

Diapit Pantai dan Goa, Tim Pengabdian Masyarakat UB dan BPBD Kabupaten Blitar Bekali Warga Tumpakkepuh Mitigasi Bencana

19 September 2026 - 07:52 WIB

Kompetensi Rekam Medis Menjadi Fondasi Tersembunyi di Balik PasarGo

17 September 2026 - 12:41 WIB

Abdul Qodir Dukung Kejaksaan Kabupaten Malang Usut Tuntas Perkara Pasar Karangploso

16 September 2026 - 22:06 WIB

987 Siswa SMK PGRI 3 Malang Dapat Tablet, Belajar Coding hingga AI Jadi Lebih Terintegrasi

16 September 2026 - 18:54 WIB

Dugaan Pencemaran Nama Baik, Abdul Qodir Laporkan Kuasa Hukum 63 Pedagang Pasar Karangploso

16 September 2026 - 15:24 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !