BACAMALANG.COM – Tim Pengabdian Masyarakat FISIP Universitas Brawijaya menggelar workshop bertajuk “Merawat Semangat Guru, Membangun Pembelajaran Bermakna: Program Pemetaan dan Intervensi di Yayasan Bahrul Maghfiroh Cinta Indonesia (BMCI)”. Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kota Malang, pada (1/8/2026) dan diikuti 35 guru dari jenjang SMA dan MA.
Workshop ini digelar untuk menjawab tantangan beban kerja administratif dan mengajar yang tinggi. Beban tersebut kerap memicu kelelahan fisik dan mental tenaga pendidik (burnout).
Burnout diketahui adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang sangat berat akibat stres berat atau tekanan yang berlangsung lama, terutama dalam pekerjaan atau rutinitas sehari-hari. Kondisi ini membuat seseorang kehilangan semangat, merasa kosong, dan tidak produktif.
Jika dibiarkan, guru berpotensi terjebak dalam rutinitas mekanis, sekadar datang, mengajar, lalu pulang. Akibatnya, interaksi dengan sesama rekan kerja memudar, rasa memiliki terhadap institusi menurun, dan loyalitas melemah.
Ketua Yayasan sekaligus pemilik Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S., IPU., mengatakan peran guru tidak hanya sebatas transfer of knowledge. Guru juga harus menjadi pendidik dan role model bagi santri. Namun peran itu sulit dijalankan jika energi guru habis.
“Merawat guru menjadi keharusan agar mereka mampu menjalankan perannya secara optimal,” kata Prof. Bisri.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Anif Fatma Chawa, Ph.D., menegaskan pembekalan psikologis dalam kegiatan ini bukan tambahan beban. Kegiatan ini merupakan bentuk perlindungan dan support system bagi guru.
“Penting bagi guru memiliki pemahaman psikologis agar tahu cara merespons saat menghadapi beban kerja, kelelahan, atau masalah dengan rekan sejawat. Dengan keterampilan konseling dasar, sesama guru bisa saling menguatkan dan membangun kembali bonding dengan institusi,” ujar Anif, Jumat (21/8/2026).
Ia menambahkan, guru yang sehat secara mental juga akan lebih tepat dalam merespons dinamika anak didik. Dengan begitu motivasi belajar siswa tetap terjaga.
Program Pelatihan Konseling Teman Sejawat ini bekerja sama dengan tenaga profesional psikologi. Tujuannya agar peserta mendapatkan keterampilan praktis membangun kembali empati, mengatasi burnout, dan menciptakan ruang aman atau psychological safety di lingkungan sekolah.
Untuk mengukur efektivitas pelatihan, panitia melakukan asesmen sebelum dan sesudah materi. Guru mengerjakan pre test dan post test berisi 10 butir pertanyaan berbasis studi kasus. Pertanyaan mencakup cara merespon rekan yang mengalami kelelahan mental akibat tugas menumpuk, cara membimbing rekan sejawat, hingga strategi menghadapi konflik batin terkait kebijakan administratif. Kegiatan ditutup dengan sesi mendengarkan aktif tanpa menghakimi.
Melalui workshop ini, Yayasan BMCI dan Tim Pengmas UB berharap tenaga pendidik dapat membangun kembali interaksi sosial yang saling mendukung antar sejawat. Dengan begitu tercipta iklim pendidikan yang sehat, loyal, dan penuh empati.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































