BACAMALANG.COM – Limbah minyak jelantah yang kerap terbuang ternyata dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna. Hal ini dibuktikan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui inovasi teknologi tepat guna berupa mesin pengolah minyak jelantah menjadi sabun.
Inovasi bernama Re-Oil to Soap Refiner Machine ini lahir dari proses pembelajaran mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) di Program Studi Teknik Industri.
Gagasan tersebut dipelopori oleh Aulia Chandra Subrolarang, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama tim beranggotakan 10 orang. Mereka melihat banyaknya minyak jelantah yang dibuang tanpa pengolahan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi sederhana namun berdampak.
“Banyak minyak jelantah yang belum dimanfaatkan dan akhirnya dibuang. Dari situ kami ingin membuat prototipe agar minyak tersebut bisa digunakan kembali,” ujar Chaca, Selasa (7/4/2026).
Mesin ini dirancang untuk skala rumah tangga hingga UMKM. Proses pengolahan dimulai dari tahap filtrasi untuk memisahkan kotoran padat, kemudian minyak dipanaskan agar lebih encer dan mudah dicampur dengan bahan pendukung. Selanjutnya, proses mixing dilakukan secara otomatis hingga menghasilkan adonan sabun yang siap dicetak dan didinginkan.
Keunggulan utama alat ini terletak pada sistemnya yang efisien dan ramah lingkungan. Proses otomatis mampu mengurangi beban kerja manual sekaligus mempercepat produksi. Selain itu, inovasi ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Keunggulannya ada pada proses yang lebih efisien serta mendukung konsep sustainability dan circular economy,” tambahnya.
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi tantangan pada tahap uji coba. Mereka harus melakukan beberapa kali percobaan untuk memastikan hasil sabun terbentuk dengan optimal. Diskusi intensif bersama dosen pembimbing juga menjadi kunci penyempurnaan desain dan sistem kerja mesin.
Meski masih berupa prototipe dengan kapasitas 1,5 liter, Chaca optimistis alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Ia menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga 5 liter dengan sistem mixing yang lebih cepat dan efisien.
Dari sisi sosial, inovasi ini berpotensi membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah. Sementara dari sisi ekonomi, sabun hasil olahan dapat membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM setelah melalui tahap pengujian lanjutan.
Bagi Chaca, pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang kolaborasi dan keberanian dalam menuangkan ide. “Jangan takut menyampaikan ide, karena siapa tahu ide tersebut bisa menjadi solusi yang bermanfaat,” pesannya.
Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan rekayasa produk dengan isu keberlanjutan. Menurutnya, melalui mata kuliah P3, mahasiswa dilatih untuk peka terhadap persoalan nyata serta mampu merancang solusi berbasis teknologi proses.
“Ke depan, sistem ini berpotensi dikembangkan menjadi mesin daur ulang pintar dengan fitur monitoring produksi, kontrol kualitas otomatis, serta analisis efisiensi energi dan biaya operasional,” jelasnya.
Melalui pembelajaran berbasis proyek seperti P3, UMM kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inovatif dan mandiri yang mendorong lahirnya karya aplikatif dari ruang kelas. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa ide sederhana dapat berkembang menjadi solusi bagi tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































