BACAMALANG.COM – Kemandirian energi dinilai menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis energi global. Hal ini disampaikan oleh dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Dr. (H.E) Priyo Iswanto, M.H.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam serta jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan pengelolaan yang tepat agar mampu menghadapi dinamika global.
“Kemandirian energi adalah kunci agar kita tidak terus-menerus terdampak gejolak global. Indonesia memiliki potensi besar, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut tidak akan cukup untuk menahan dampak krisis yang semakin kompleks,” ujarnya belum lama ini.
Dampak Geopolitik Global
Priyo menyoroti memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia.
Menurutnya, gangguan di jalur tersebut akan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak global dan memberikan tekanan besar terhadap banyak negara, termasuk Indonesia.
“Penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Dalam kondisi seperti ini, ruang gerak diplomasi menjadi terbatas karena persoalan utamanya adalah berkurangnya pasokan energi,” jelasnya.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Dr. (H.E) Priyo Iswanto, M.H.,
Tekanan pada APBN dan Konsumsi Energi
Kenaikan harga minyak, lanjutnya, akan berdampak signifikan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sektor subsidi energi.
Untuk itu, Priyo mendorong pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM), khususnya pada sektor non-vital, serta perlunya keterlibatan masyarakat dalam upaya penghematan energi.
“Diplomasi saja tidak cukup ketika harga minyak melonjak tinggi. Pemerintah harus bersiap menghadapi tekanan besar terhadap APBN,” tegasnya.
Diversifikasi Energi dan Transisi Berkelanjutan
Priyo menilai, situasi krisis ini justru menjadi momentum untuk mempercepat diversifikasi energi, terutama menuju energi terbarukan. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam mengembangkan energi alternatif berbasis sumber daya domestik.
Ia menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan industri dan perekonomian nasional.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada energi fosil karena selain terbatas, juga rentan terhadap gejolak global seperti saat ini,” katanya.
Opsi Energi Nuklir
Selain energi terbarukan, Priyo juga mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang, sebagaimana telah diterapkan di berbagai negara maju.
“Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari krisis, tetapi juga memperkuat fondasi menuju kemandirian energi untuk menopang industri di masa depan,” ucapnya mengakhiri.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW



























































