BACAMALANG.COM – Sebanyak 20 guru TK hingga SMA Plus Al-Kautsar Malang mengikuti pendampingan dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB). Program ini bertujuan membangun ruang belajar yang aman, setara, dan peka terhadap keberagaman.
Kegiatan bertajuk “Guru Tangguh, Sekolah Damai: Pendampingan GCED-ISRA untuk Mencegah Hate Extremism” digelar pada Selasa (5/8/2026). Pendampingan dipimpin dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP UB, Yusli Effendi, S.IP., M.A.
Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat FISIP UB tahun 2026. Pendekatan Pendidikan Kewargaan Global atau Global Citizenship Education GCED dipadukan dengan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (ISRA) untuk menumbuhkan empati, tanggung jawab sosial, moderasi, toleransi, dan budaya damai.
“Keragaman bukan sumber jarak, tetapi peluang belajar yang perlu dikelola secara adil dan terbuka,” ujar Yusli saat membuka kegiatan.
Kegiatan diawali dengan pra-test untuk memetakan pemahaman guru mengenai GCED, ISRA, toleransi intraagama, literasi digital, dan ekstremisme kebencian. Selanjutnya Yusli menyampaikan materi “Beda, Setara, Belajar: Pendidikan Karakter dan Keragaman di Sekolah Indonesia” yang dikaitkan dengan pengalaman guru dalam mengelola pembelajaran dan interaksi antarsiswa.
Peserta juga dikenalkan pada pendekatan Pendidikan Kewargaan Global Kritikal atau Critical Global Citizenship Education (GCED). Melalui pendekatan ini siswa diajak menelaah fakta, mengenali prasangka, memahami akar ketidakadilan, dan menyusun tindakan yang bertanggung jawab.
Sesi khusus diberikan untuk literasi digital. Para guru dibekali cara membimbing siswa membedakan data, opini, stereotip, disinformasi, dan ujaran kebencian, terutama pada isu agama, identitas, dan konflik global. Siswa juga dilatih mencermati klaim, sumber, bukti, motif, dan peran algoritma sebelum meneruskan konten di media sosial.
Setelah pemaparan dan tanya jawab, peserta dibagi menjadi empat kelompok diskusi. Mereka membahas empat isu utama: perbedaan mazhab dan toleransi intraagama, stereotip serta pelabelan di sekolah, disinformasi keagamaan dan konflik global di media sosial, serta strategi menciptakan diskusi kelas yang aman dan inklusif.
Setiap kelompok memetakan bentuk masalah, akar penyebab, media penyebaran, dan dampaknya terhadap pembelajaran. Dari hasil diskusi, guru menyusun rencana tindak lanjut yang memuat tujuan pembelajaran, aktivitas guru dan siswa, prinsip GCED-ISRA, risiko yang diantisipasi, serta indikator keberhasilan. Hasilnya kemudian dipresentasikan dan mendapat umpan balik dari fasilitator.
Yusli menegaskan guru memiliki peran strategis sebagai penyampai pengetahuan, fasilitator dialog, pengelola isu sensitif, sekaligus teladan etis bagi siswa. “Guru perlu punya metode yang apik dan asik agar siswa bisa membahas perbedaan secara kritis tanpa saling menghakimi,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan postes, refleksi, dan penyampaian komitmen tindak lanjut. Tim FISIP UB juga menyerahkan modul edukasi GCED-ISRA dan perangkat rencana aksi kelas yang dapat digunakan kembali. Modul tersebut memuat pengantar GCED dan ISRA, toleransi intraagama, etika dialog, literasi digital, studi kasus, serta rancangan aktivitas pembelajaran.
Melalui pendampingan ini, FISIP UB berharap para guru dapat terus merawat sekolah sebagai ruang aman bagi siswa untuk mendengarkan, memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































