Neo-Walangwati Walangsumirang, Warisan Terakhir Ki Sutak Hadir dalam Tafsir Baru Wayang Topeng Malangan - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EVENT & ACARA · 5 Agu 2026 14:41 WIB ·

Neo-Walangwati Walangsumirang, Warisan Terakhir Ki Sutak Hadir dalam Tafsir Baru Wayang Topeng Malangan


 Salah satu adegan pertunjukan Wayang Topeng Malangan Neo-Walangwati Walangsumirang, karya terakhir almarhum Sutak Wardiono atau Ki Sutak, di Taman Krida Budaya Kota Malang, Selasa (4/8/2026) malam. (Nedi Putra AW) Perbesar

Salah satu adegan pertunjukan Wayang Topeng Malangan Neo-Walangwati Walangsumirang, karya terakhir almarhum Sutak Wardiono atau Ki Sutak, di Taman Krida Budaya Kota Malang, Selasa (4/8/2026) malam. (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Bagaimana jika sebuah lakon tradisi dimaknai kembali dengan bahasa panggung masa kini? Pertanyaan itulah yang dijawab melalui pertunjukan Neo-Walangwati Walangsumirang, sebuah karya Teater Topeng Malangan yang menghadirkan pembacaan baru atas lakon klasik Walangwati dan Walangsumirang, berakar dari tradisi Wayang Topeng Malangan.

Pementasan yang digelar di Taman Krida Budaya Kota Malang, Selasa (4/8/2026) ini terbuka dan gratis untuk umum dengan antuisiasme penonton yang cukup tinggi, termasuk dari kalangan muda. Mereka tampak antri dengan tertib sebelum area panggung dibuka pada pukul 19.00 WIB

Neo-Walangwati Walangsumirang berakar dan berkaitan erat dengan siklus cerita Panji. Meski demikian lakon ini bukan sekadar menghadirkan kembali cerita lama, karena menawarkan dialog antara tradisi dan teater kontemporer melalui eksplorasi dramaturgi, tubuh aktor, vokal, tata ruang, hingga visual pertunjukan.

Kisahnya tentang cinta, pengkhianatan, pencarian jati diri, dan perjalanan manusia dikemas dalam bahasa artistik yang lebih dekat dengan realitas sosial masa kini tanpa meninggalkan ruh Wayang Topeng Malangan.

Produser pementasan ini adalah Ahmad Junaidi dan Ahmad Priyono, dengan Musthofa Kamal sebagai sutradara dan Shindu Dhohir Herlianto sebagai asisten sutradara. Dramaturgi dipercayakan kepada Lutfi Petal. Neo-Walangwati Walangsumirang juga menjadi pertunjukan yang sarat makna emosional, karena lakon ini merupakan karya terakhir almarhum Sutak Wardiono atau Ki Sutak, seniman, budayawan, sekaligus maestro seni tradisional Malangan yang wafat pada 28 Maret 2026, ketika naskah pertunjukan tersebut hampir rampung sepenuhnya.

Almarhum Sutak Wardiono atau Ki Sutak. (ist)

Pertunjukan ini lahir dari kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada pewarisan semata, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk menafsirkan ulang sesuai perkembangan zaman. Melalui pendekatan tersebut, Teater Topeng Malangan diharapkan mampu memperluas jangkauan apresiasi sekaligus menjaga marwah seni pertunjukan tradisional di tengah dinamika masyarakat modern.

Kepergian Ki Sutak meninggalkan duka bagi dunia seni pertunjukan Malang. Namun, melalui Neo-Walangwati Walangsumirang, gagasan dan pemikirannya tetap hidup di atas panggung sebagai warisan budaya yang terus menginspirasi generasi berikutnya.

Semasa hidupnya, Ki Sutak dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan dirinya untuk melestarikan kesenian tradisional Malangan. Selain aktif sebagai penari, guru tari, penulis naskah, dan budayawan, ia juga mendirikan komunitas Kendo Kenceng, kelompok seni yang mengembangkan ludruk gaya Malangan dengan sentuhan isu-isu sosial kontemporer.

Sejumlah karya penting pernah lahir dari tangan Ki Sutak, di antaranya Karsinah, Kari Siji Sing Genah, Banting Setir, Poris Manap, hingga Dagelan Kendo Kenceng. Dedikasinya juga membawanya meraih penghargaan sebagai Penulis Naskah Terbaik dalam Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura) pada Jatim Kominfo Festival 2019.

Tak hanya berkarya di panggung, Ki Sutak juga aktif menjadi narasumber, juri, dan kurator berbagai festival budaya. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Sanggar Tari Senaputra, menjadi Dewan Pakar Lesbumi Kota Malang, serta turut terlibat dalam film lokal Darah Biru Arema. Sosoknya dikenal luas sebagai figur yang konsisten menjaga keberlangsungan seni tradisional Jawa Timur.

Adegan puncak Wayang Topeng Malangan Neo-Walangwati Walangsumirang, karya terakhir almarhum Sutak Wardiono atau Ki Sutak, di Taman Krida Budaya Kota Malang, Selasa (4/8/2026) malam. (Nedi Putra AW)

Pertunjukan ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, ingatan, dan kreativitas baru, dengan dukungan belasan aktor, penari, pemusik, serta tim artistik dari berbagai disiplin seni.

Seperti diungkapkan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM), Ki Suroso bahwa Neo-Walangwati Walangsumirang menjadi bukti bahwa transformasi merupakan keniscayaan dalam perjalanan sebuah kebudayaan—bahwa tradisi dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk ditafsirkan kembali tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.

“Ini luar biasa, sebuah pagelaran yang memadukan Wayang Topeng Malang, seni tari dan teater serta ludruk sekaligus,” tandas cucu dari almarhum Mbah Karimun, tokoh pelestari utama yang membangkitkan kembali seni Topeng Malangan tersebut.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Api Terus Menjalar, BPBD Kabupaten Malang Siaga Cegah Kebakaran Bromo Meluas

5 Agustus 2026 - 12:30 WIB

Merasa Dirugikan Rp1,14 Miliar, Kontraktor Somasi Developer Wangsakarta PrimaLand

5 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Pemilik KSU Unggul Makmur Jadi Tersangka Dugaan Penipuan Rp500 Juta, Korban Minta Polisi Segera Lakukan Penahanan

4 Agustus 2026 - 14:27 WIB

SDN Sidomulyo 02 Kota Batu Tanamkan Budaya Santun Lewat Inovasi “ESSIDA, Permisi Mang Iki Sasa Senyum Lo”

4 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Buku Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang, Menelusuri Jejak Komunitas yang Membentuk Wajah Kota

4 Agustus 2026 - 10:34 WIB

UB Gelar Skrining Kesehatan Mental Serentak untuk 17 Ribu Calon Mahasiswa Baru

4 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !