BACAMALANG.COM- (RBR) Genap dua tahun menjadi rumah bagi warga Kota Malang untuk membaca, berdiskusi, dan berkarya. Momen ini akan dirayakan lewat acara bertajuk “Karsa Wacana” pada Senin (24/8/2026, di Jalan Diponegoro No. 3, Klojen, Kota Malang.
keberadaan RBR tidak dapat dilepaskan dari sosok Ratna Indraswari Ibrahim.. Wanita , tak bisa dipisahkan dari Dari kediamannya di Jalan Diponegoro 3 Klojen, Kota Malang, Sastrawan kelahiran Malang, 24 April 1949 ini setidaknya telah menulis 300 cerpen, beberapa novel, novelet, puisi, artikel, dan esai semasa hidupnya.
Perayaan dua tahun RBR juga menjadi momentum istimewa dengan adanya Piagam Penghargaan Psikoday Awards dari Indonesia Mental Health Summit (IMHS) 3 2026.
Rumah Budaya Ratna menerima penghargaan sebagai Rumah Budaya Inspiratif. Piagam penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Direktur PT Laressa Rafflesia International. Ade Laressa, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Ketua Panitia Lembar ke-2 Karsa Wacana Rumah Budaya Ratna, Miftha Deviani, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun, tetapi juga ruang apresiasi terhadap berbagai karya dan kolaborasi yang telah tumbuh selama dua tahun.
“Karsa Wacana menjadi momen bagi kami untuk merayakan dua tahun perjalanan Rumah Budaya Ratna, sekaligus mengapresiasi setiap karya, cerita, dan kolaborasi yang telah tumbuh bersama RBR,” tandasnya.

Pewakilan Rumah Budaya Ratna menerima penghargaan sebagai Rumah Budaya Inspiratif. Piagam penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Direktur PT Laressa Rafflesia International. Ade Laressa, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (Nedi Putra AW)
Rumah Budaya Ratna (RBR) tidak hanya menjadi ruang literasi dan budaya, tetapi juga semakin banyak dimanfaatkan mahasiswa sebagai tempat belajar, penelitian hingga produksi karya kreatif.
Kunjungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tercatat meningkat. Mereka antara lain berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Negeri Malang, BINUS Malang, Universitas Widya Gama dan Universitas Bhinneka Nusantara.
Sebagian mahasiswa datang untuk melakukan wawancara dengan Benny Ibrahim sebagai bahan tugas perkuliahan. Sebagian lainnya menjadikan RBR sebagai lokasi penelitian untuk penyusunan skripsi.
Salah satunya Rania Rafi Salmadina dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Malang. Pada Februari 2026, ia menyusun skripsi berjudul “Peran Library Cafe dalam Upaya Peningkatan Budaya Literasi Generasi Muda di Rumah Budaya Ratna.”
RBR juga menjadi objek kajian mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Brawijaya. Beberapa di antaranya adalah Diska Fauziah (2025) yang meneliti pengelolaan perpustakaan dalam konsep library cafe, Muhammad Hafiz Fajar (2025) mengenai persepsi pengguna library cafe sebagai ruang literasi, serta Rachmat Suparmansyah (2025) yang mengkaji hubungan suasana tempat dan biblioterapi terhadap minat baca pengunjung Gen Z.
Tak hanya untuk kepentingan akademik, RBR juga semakin sering dimanfaatkan sebagai ruang produksi karya audiovisual. Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura pernah menggunakan Kedai Kopi RBR sebagai lokasi pengambilan gambar untuk tugas mata kuliah sinematografi.
Sementara itu, mahasiswa Universitas Brawijaya menjadikan RBR sebagai salah satu lokasi syuting film “Raja Brawijaya” yang diproduksi untuk mahasiswa baru UB.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai kampus tersebut menunjukkan RBR berkembang sebagai ruang publik yang mempertemukan literasi, pendidikan, seni dan kreativitas. Aktivitas akademik dan produksi karya yang berlangsung di dalamnya sekaligus memperluas fungsi RBR sebagai ruang belajar di luar lingkungan kampus.
Semangat tersebut juga tercermin dalam perayaan dua tahun RBR bertajuk “Karsa Wacana”. Panitia menyiapkan kaos khusus sebagai salah satu penanda perayaan.

Salah satu giat kreatif dalam gelaran “Karsa Wacana” Rumah Budaya Ratna, di Jalan Diponegoro 3, Klojen, Kota Malang Senin, (24/8/2026). (Nedi Putra AW)
Menariknya, bagian belakang kaos menampilkan enam ilustrasi yang merepresentasikan berbagai ikon Kota Malang, yakni Kantor Wali Kota Malang, Candi Singosari, wisata Rumah Pelangi, bakso Malang, Gunung Bromo dan Tugu Malang.
Pilihan ilustrasi tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa perayaan dua tahun Rumah Budaya Ratna tidak hanya menjadi perayaan internal, tetapi juga bagian dari apresiasi terhadap kota dan masyarakat yang selama ini menjadi ruang tumbuh RBR.
Sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan tersebut, perayaan HUT ke-2 Rumah Budaya Ratna digelar terbuka untuk umum dan gratis. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra media di Kota Malang.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW


























































