Asap TPA Supiturang Mengandung Zat Berbahaya, Dosen Keperawatan UMM Ingatkan Warga Gunakan Masker N95 - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 23 Okt 2026 17:53 WIB ·

Asap TPA Supiturang Mengandung Zat Berbahaya, Dosen Keperawatan UMM Ingatkan Warga Gunakan Masker N95


 Dosen D-3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., memberikan panduan menghadapi paparan asap beracun dari TPA Supiturang. (ist) Perbesar

Dosen D-3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., memberikan panduan menghadapi paparan asap beracun dari TPA Supiturang. (ist)

BACAMALANG.COM – Kepulan asap akibat kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang, Kota Malang, yang terjadi pada 21 Oktober 2026, menjadi perhatian serius dari sisi kesehatan. Asap pekat yang menyebar hingga sejumlah wilayah Malang Raya berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Dosen D-3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh paparan asap pembakaran sampah. Asap dari pembakaran sampah rumah tangga, bahan organik, hingga plastik dapat mengandung berbagai polutan berbahaya bagi tubuh.

Sebaran asap dilaporkan menjangkau Kecamatan Dau dan sebagian Kecamatan Karangploso di Kabupaten Malang, serta Kecamatan Lowokwaru, khususnya Kelurahan Dinoyo, Kota Malang.

“ Asap pembakaran sampah mengandung partikulat halus PM2.5 dan PM10 yang mampu menembus jauh hingga ke kantung udara paru-paru. Selain itu, terdapat gas karbon monoksida (CO) yang menghambat distribusi oksigen dalam darah, serta zat berbahaya hasil pembakaran plastik, seperti dioksin dan furan,” ujar Titik, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, paparan polutan tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang. Keluhan yang mungkin muncul antara lain iritasi mata, batuk, pusing, kelelahan, hingga serangan asma akut dan memburuknya kondisi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Jika paparan berlangsung dalam jangka panjang, risiko gangguan fungsi paru dan penyakit kardiovaskular juga perlu diwaspadai.

Anak-anak, Ibu Hamil, dan Lansia Lebih Rentan

Titik menegaskan, perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi prioritas selama kualitas udara terdampak asap kebakaran belum membaik.

Pada bayi dan balita, paparan polusi dapat memperburuk gangguan pernapasan serta mengganggu perkembangan paru-paru. Sementara itu, paparan polutan pada ibu hamil perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan kehamilan, termasuk kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

Adapun lansia, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta, berisiko mengalami perburukan gangguan pernapasan maupun penyakit jantung akibat paparan polusi udara.

Karena itu, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama asap masih menyelimuti lingkungan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup untuk membatasi masuknya asap. Jika tersedia, warga dapat menggunakan pembersih udara atau air purifier dengan filter yang sesuai.

Penggunaan AC pada mode resirkulasi juga dapat membantu mengurangi masuknya udara luar, sepanjang sistem tidak mengambil udara dari luar ruangan.

Masker Medis Biasa Belum Tentu Cukup

Dalam kondisi udara berasap, pemilihan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang perlu diperhatikan. Titik mengingatkan bahwa masker kain dan masker medis tipis tidak dirancang untuk memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus seperti PM2.5.

“Untuk aktivitas di luar ruangan, gunakan masker berstandar N95, KN95, atau KF94 yang terpasang rapat di wajah. Bagi pekerja lapangan, seperti pengemudi ojek daring, penggunaan masker yang tepat sangat penting untuk mengurangi paparan partikel halus,” jelasnya.

Selain memakai masker, masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah disarankan membatasi durasi kegiatan, menghindari aktivitas fisik berat, serta menggunakan pelindung mata apabila diperlukan.

Namun, masker partikulat tersebut tidak melindungi dari seluruh jenis gas beracun, termasuk karbon monoksida. Oleh sebab itu, menghindari area yang terpapar asap pekat tetap menjadi langkah utama.

Kenali Gejala dan Tanda Bahaya

Titik juga mengingatkan masyarakat agar segera menangani keluhan ringan akibat paparan asap. Jika mata mengalami iritasi, warga dapat membilasnya menggunakan air bersih mengalir atau cairan saline steril tanpa mengucek mata.

Keluhan tenggorokan kering dapat dibantu dengan mencukupi kebutuhan cairan. Meski demikian, penanganan mandiri tidak boleh menunda pemeriksaan apabila gejala semakin berat.

Warga diminta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk berdarah, pusing hebat, atau bibir dan kuku tampak kebiruan. Kondisi tersebut dapat menandakan gangguan serius yang membutuhkan penanganan segera.

Kewaspadaan lebih tinggi juga diperlukan saat memantau kondisi anak-anak dan lansia. Pada balita, tanda bahaya meliputi tarikan dinding dada ke dalam ketika bernapas, napas yang cepat, tubuh sangat lemas, atau menolak menyusu.

Sementara pada lansia, napas yang sangat cepat saat beristirahat, penurunan nafsu makan secara drastis, serta perubahan kesadaran seperti kebingungan atau mengantuk berlebihan perlu segera diperiksakan.

Melalui imbauan tersebut, Titik berharap masyarakat Malang Raya tetap tenang, tetapi sigap mengambil langkah perlindungan kesehatan selama dampak kebakaran TPA Supiturang masih dirasakan.

Ia juga berharap penanganan kebakaran segera tuntas sehingga kondisi udara berangsur membaik dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Jadwal Kapal Dibatalkan, Relawan ASLI Malang Manfaatkan Waktu untuk Menuntaskan Laporan Misi Kemanusiaan

23 Oktober 2026 - 06:04 WIB

Dari Sabar Mase ke Entrepreneur Heppiee, UIBU Malang Kenalkan Maba pada Dunia Kewirausahaan

21 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Perkuat Pendidikan Alam, Sosiologi UB dan RBA Dampingi Sekolah Alam Sobyor

21 Oktober 2026 - 10:41 WIB

Kantongi SK Mendiktisaintek, UIBU Malang Resmi Buka Prodi S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga

20 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Tandon Ada Kendala Saat Uji Coba, Komunitas Peduli Malang Tak Surut Perjuangkan Air Bersih di NTT

19 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Peringati HUT ke-22, d’Kross Community Pererat Silaturahmi dan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim

19 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !