BACAMALANG.COM – Anak-anak yang tumbuh dengan mengenal alam lebih awal diyakini memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan. Berangkat dari hal tersebut, Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) bersama Ruang Belajar Aqil (RBA) memberikan pendampingan bagi Sekolah Alam Sobyor di Malang.
Pendampingan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) ini dipimpin oleh Genta Mahardhika Rozalinna, M.A., bersama Dr. Iwan Nurhadi dan Henny Rosalinda, Ph.D., serta dibantu mahasiswa Chayara Lubna Eziza. Inisiatif ini bertujuan mendorong Sobyor agar berkembang menjadi bisnis sosial berbasis ekologi yang mandiri dan berkelanjutan, sehingga layanan pendidikan lingkungannya dapat terus berjalan secara optimal.
Sekolah Alam Sobyor sendiri didirikan oleh Luhur Suseno di bawah naungan Yayasan Lentera Alam Indonesia. Di lembaga pendidikan nonformal ini, anak-anak usia sekolah dasar diajak belajar melalui pengalaman langsung dan penjelajahan alam, bukan sebatas membaca teks di dalam kelas.
Pembenahan Tata Kelola dan Administrasi
Ketua Tim Pengmas, Genta Mahardhika Rozalinna, M.A., menjelaskan bahwa berdasarkan pemetaan awal, Sobyor saat ini berada pada tahap pemulihan dan pertumbuhan. Meski kegiatan belajar-mengajar di lapangan sudah berjalan baik, aspek pengelolaan administrasi, standar layanan, dan prosedur operasional masih perlu ditata.
“Tata kelola yang tertata sangat penting agar keberlanjutan lembaga tidak hanya bergantung pada semangat pendirinya. Kami mengapresiasi keterbukaan tim Sobyor yang bersedia mengubah pola kerja dari spontan menjadi lebih terencana,” ujar Genta, Rabu (21/10/2026).
Mengenai status kelembagaan, Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd., selaku Chairperson Ruang Belajar Aqil sekaligus Tim Ahli Direktorat SMP Kemendikdasmen, menyampaikan bahwa Sobyor saat ini berstatus program pendidikan nonformal di bawah yayasan.
“Untuk jangka menengah, Sobyor sebaiknya berkembang menjadi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Bentuk ini memberikan jalur yang lebih jelas untuk mengembangkan modul kecakapan hidup dengan perizinan daerah yang terjangkau, sekaligus memperkuat pengakuan pendidikan lingkungan berbasis pengalaman,” jelas Wily.
Keselamatan Anak dan Kemandirian Finansial
Dalam proses pendampingan, pengelola Sobyor telah berhasil menyusun materi belajar menjadi modul tematik yang tersimpan rapi dan dapat digunakan ulang oleh para fasilitator. Evaluasi perkembangan anak pun kini dicatat secara sistematis agar orang tua dapat memantau capaian anaknya.
Mengingat seluruh kegiatan berlokasi di ruang terbuka, faktor keselamatan anak menjadi prioritas utama. Sobyor menerapkan aturan keselamatan ketat yang mengatur kode perilaku interaksi dengan anak, aturan dokumentasi media, hingga persetujuan tertulis dari orang tua (informed consent) sebelum kegiatan dilaksanakan.
Di sisi pengelolaan internal dan finansial, Sobyor mempertegas pembagian tugas tim, pembekalan teknis, serta pembaruan komitmen relawan secara berkala. Untuk pendanaan, Sobyor mengubah istilah layanan dari “gratis” menjadi “tidak berbayar”.
Anak-anak dapat belajar tanpa dipungut biaya, sementara operasional ditutup melalui kerja sama transparan bersama donatur, skema orang tua/kakak asuh, program CSR perusahaan, hibah pemerintah, hingga paket kegiatan luar kelas (outbound) bagi sekolah formal.
Ke depan, pengembangan Sobyor diproyeksikan berlangsung bertahap: dimulai dari perapian dokumen dan struktur kepengurusan, pelaksanaan program secara konsisten dengan pencatatan data, penyusunan bukti dampak (impact measurement), hingga pemenuhan kesiapan izin resmi lembaga.
Pewarta : Hadi Triswanto
Editor : Rahmat Mashudi Prayoga

























































