BACAMALANG.COM – Rencana kepulangan relawan Komunitas Peduli Malang – ASLI Malang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) harus tertunda setelah pelayaran KM Dharma Rucitra VII rute Labuan Bajo–Surabaya yang dijadwalkan Jumat (23/10/2026) dibatalkan pihak pelayaran.
Pembatalan tersebut disampaikan melalui pemberitahuan resmi PT Dharma. Dalam informasi itu, penumpang diberi kesempatan mengajukan pengembalian tiket sebesar 100 persen melalui kantor cabang Labuan Bajo maupun kantor cabang terdekat.
Bagi Yoeni Achyar, relawan yang baru saja menuntaskan misi kemanusiaan di NTT, perubahan jadwal tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang harus disikapi dengan sabar. Sembari mengatur alternatif perjalanan pulang, ia memanfaatkan waktu di Labuan Bajo untuk beristirahat dan menyelesaikan laporan kegiatan kemanusiaan.
Misi kemanusiaan yang dijalankan Yoeni berlangsung selama kurang lebih tiga minggu. Ia bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 30 September 2026 menuju Labuan Bajo, sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah wilayah di Manggarai Timur, khususnya Pota dan Kecamatan Sambi Rampas.
Selama berada di wilayah tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi dukungan bagi masyarakat terdampak gempa, upaya pemulihan akses air bersih, serta kegiatan berbagi dan pendampingan kepada warga.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lapangan, Yoeni berpamitan untuk meninggalkan NTT pada 20 Oktober 2026. Namun, rencana kembali ke Jawa Timur tidak berjalan sesuai jadwal setelah keberangkatan kapal dibatalkan.
Sebelumnya, Yoeni melakukan perjalanan bersama seorang rekan dari Gimbal Alas Indonesia. Karena rekannya masih memiliki program lanjutan di NTT, Yoeni merencanakan kepulangan secara terpisah.
Ia kemudian berencana pulang bersama seorang rekan dari NH Sidoarjo yang dijadwalkan kembali ke Jawa pada 23 Oktober 2026. Namun, menyusul pembatalan pelayaran, rekannya tersebut memilih menempuh perjalanan darat dengan dukungan sopir cadangan.
Keterbatasan kapasitas kendaraan membuat Yoeni tidak dapat bergabung dalam perjalanan tersebut. Ia pun harus mencari alternatif kepulangan secara mandiri.
Persaudaraan dan Kebaikan yang Membekas
Di tengah perubahan rencana perjalanan, Yoeni menyimpan sejumlah pengalaman berharga selama menjalankan misi kemanusiaan di NTT. Salah satunya ketika berada di Ruteng, saat ia mendapat tempat beristirahat di kos milik Mbak Etri, warga Reo yang bekerja di Pengadilan Agama Ruteng.
Sambutan hangat tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membekas bagi Yoeni. Baginya, perjalanan kemanusiaan bukan semata-mata tentang bantuan yang disalurkan, melainkan juga tentang persaudaraan, kepedulian, dan pertolongan yang datang dari orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan.
Waktu jeda di Labuan Bajo kini dimanfaatkan untuk memulihkan tenaga, menikmati suasana setempat, sekaligus merapikan laporan kegiatan sebelum kembali ke Jawa Timur.
Yoeni memandang perubahan jadwal kepulangan sebagai bagian dari proses yang perlu dijalani dengan ikhtiar dan rasa syukur. Ia meyakini bahwa setiap perjalanan memiliki pelajaran tersendiri, termasuk ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
“Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai di tujuan, tetapi tentang bagaimana kita menikmati setiap proses dengan sabar, ikhtiar, dan tawakal, hingga Allah memberikan hasil terbaik menurut-Nya,” ujar Yoeni.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa misi kemanusiaan tidak hanya meninggalkan dampak bagi masyarakat penerima bantuan, tetapi juga memberikan pelajaran bagi para relawan. Mulai dari arti ketulusan, kekuatan persaudaraan, hingga pentingnya menjaga rasa syukur dalam menghadapi berbagai keadaan.
Di tengah tertundanya perjalanan pulang, Yoeni memilih tetap menjalani proses dengan tenang sembari menyiapkan langkah selanjutnya agar dapat kembali ke Jawa Timur setelah memperoleh alternatif perjalanan yang memungkinkan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































