BACAMALANG.COM – Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPRD Kota Malang, Jalan Tugu, Rabu (21/10/2026). Aksi tersebut menjadi bagian dari konsolidasi gerakan untuk menyuarakan berbagai persoalan ekonomi, hukum, hak asasi manusia (HAM), dan pendidikan yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Massa yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa di Malang mulai berdatangan sejak pukul 15.00 WIB. Sejumlah perwakilan massa kemudian menyampaikan orasi di hadapan peserta aksi yang berkumpul di sisi depan Gedung DPRD Kota Malang dan kawasan Bundaran Tugu.
Di tengah cuaca sore yang masih terik, massa juga mendirikan Posko Logistik Kolektif untuk menyediakan makanan dan minuman bagi peserta aksi. Selain menyiapkan logistik secara mandiri, mereka juga membeli makanan dari para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar lokasi demonstrasi.
Aksi tersebut turut berdampak pada kelancaran lalu lintas. Karena jalan masih dibuka untuk kendaraan yang melintas, arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat. Para mahasiswa membentangkan sejumlah spanduk berisi tuntutan dan mengajak pengendara yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap aspirasi mereka.
Salah satu aksi yang dilakukan adalah dengan membentangkan spanduk bertuliskan “2 Tahun Prabowo-Gibran” di tengah jalan. Spanduk tersebut kemudian dilindas kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas. Situasi ini berlanjut hingga aparat melakukan penutupan jalur di kawasan aksi.
Humas Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Muhammad A. Ilham, mengatakan aksi tersebut menjadi ruang untuk menyatukan suara mahasiswa, buruh, petani, dan berbagai elemen masyarakat dalam menyampaikan tuntutan kepada pemerintah.
Menurutnya, sejumlah persoalan yang menjadi perhatian massa meliputi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kenaikan harga pangan, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan KKN, hingga penanganan stunting.
“Kami tidak hanya mengajak elemen mahasiswa, tetapi seluruh elemen masyarakat untuk terus terlibat dalam aksi ini,” ujar Ilham di tengah aksi.

Massa juga mendirikan Posko Logistik Kolektif untuk menyediakan makanan dan minuman bagi peserta aksi. (Nedi Putra AW)
Ia menjelaskan, aksi simbolis melalui pembentangan spanduk di jalan tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dalam aksinya, Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu membawa empat fokus tuntutan utama. Pertama, di bidang ekonomi, massa mendesak evaluasi pengelolaan anggaran serta penanganan kelangkaan dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Kedua, dalam bidang hukum dan tata kelola negara, mereka mendorong penataan kembali kebijakan pemerintah serta penghentian tindakan represif terhadap aktivis dan masyarakat. Ketiga, di bidang HAM dan demokrasi, massa menuntut perlindungan kebebasan berpendapat dan penegakan keadilan sosial.
Keempat, dalam bidang pendidikan, mereka mendesak pembenahan fasilitas serta pemerataan akses pendidikan yang berkeadilan.
Arifin menambahkan, aksi di Malang juga menjadi bagian dari gerakan yang menyambut agenda Komite Sadar di tingkat nasional. Gerakan tersebut diarahkan untuk memperkuat konsolidasi dan mempersiapkan eskalasi aksi yang lebih besar pada 28 Oktober mendatang.

Aparat berjaga di sekitar Gedung DPRD Kota Malang. (Nedi Putra AW)
Ia berharap pemerintah merespons berbagai tuntutan tersebut melalui langkah konkret dan membuka ruang dialog dengan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah dapat segera merespons tuntutan ini secara nyata tanpa mengedepankan tindakan represif,” pungkasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW



















































