BACAMALANG.COM – Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di bidang Hubungan Masyarakat (Humas) dinilai mampu meningkatkan efektivitas komunikasi strategis. Namun, teknologi tersebut tidak dapat menggantikan peran manusia dalam memahami konteks, emosi, serta nilai-nilai etika yang menjadi fondasi utama komunikasi publik.
Pendapat tersebut disampaikan Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) 2026, Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom., Ph.D., dalam workshop bertajuk “AI-Powered Public Relations: A Workshop on Social Media Listening with Big Data Analytics”, yang berlangsung selama dua hari di Gedung C FISIP UB, Malang, belum lama ini.
FISIP UB berkolaborasi dengan Perhumas BPC Malang Raya, Parimaya, Kazee Digital, dan RVARE untuk menghadirkan perpaduan perspektif akademis dengan pengalaman praktis dari industry dalam kegiatan yang merupakan bagian dari roadmap Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB di bidang Digital Public Relations, dan telah berjalan sejak 2024.
Maulina Pia Wulandari menjelaskan bahwa penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam praktik kehumasan harus tetap mengedepankan nilai etika dan empati. Menurutnya, AI merupakan alat bantu untuk meningkatkan efektivitas kerja, bukan pengganti peran manusia dalam mengambil keputusan komunikasi.
“Teknologi dapat membantu kita membaca jutaan data dalam waktu singkat, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan keseluruhan pengalaman manusia. Praktisi humas tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mengenali emosi publik, dan memastikan keputusan komunikasi dilakukan secara akurat, etis, serta penuh empati,” ujar akademisi yang akrab disapa Pia ini.

Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D., saat menyampaikan materi mengenai pemanfaatan AI, social media listening, dan Big Data dalam praktik kehumasan. (ist)
Ia menambahkan, AI sebaiknya dimanfaatkan untuk mempercepat proses analisis serta memberikan gambaran awal mengenai dinamika opini publik. Namun demikian, verifikasi oleh manusia tetap menjadi tahapan yang tidak dapat diabaikan, terutama untuk memahami sarkasme, bahasa lokal, konteks sosial, hingga berbagai nuansa komunikasi yang belum mampu dibaca secara utuh oleh algoritma.
Menurut Pia, perkembangan media digital membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Karena itu, kemampuan melakukan social media listening menjadi kompetensi penting bagi praktisi humas agar mampu mendeteksi isu sejak dini sekaligus meminimalkan potensi krisis reputasi organisasi.
Melalui workshop ini, peserta dibekali keterampilan memanfaatkan AI dan analitik Big Data untuk memantau percakapan publik, menganalisis sentimen, serta menyusun rekomendasi strategi komunikasi berbasis data.
Selama pelatihan, peserta mengikuti berbagai simulasi kasus nyata, mulai dari menentukan kata kunci pemantauan, mengidentifikasi tren percakapan, memetakan aktor berpengaruh, hingga menyusun respons awal terhadap krisis dengan memanfaatkan teknik prompt engineering secara kritis.
“Kami sengaja menjalin kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan industry, agar kegiatan ini menjadi langkah penting untuk pengembangan kompetensi humas, sehingga mereka dapat mengikuti perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung sangat cepat,” tutup Pia.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































