Seniman Kepanjen Soroti Tren Karya Berbasis AI: Teknologi Boleh Maju, Orisinalitas Jangan Hilang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 18 Jul 2026 08:25 WIB ·

Seniman Kepanjen Soroti Tren Karya Berbasis AI: Teknologi Boleh Maju, Orisinalitas Jangan Hilang


 Seniman Kepanjen, Bagas Sutoko, memberikan pandangan kritis terkait maraknyta fenomena produk seni dengan bantuan AI, saat berada di sebuah kafe estetik di jantung Kota Kepanjen.(Hadi Triswanto) Perbesar

Seniman Kepanjen, Bagas Sutoko, memberikan pandangan kritis terkait maraknyta fenomena produk seni dengan bantuan AI, saat berada di sebuah kafe estetik di jantung Kota Kepanjen.(Hadi Triswanto)

BACAMALANG.COM – Pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara banyak orang berkarya, termasuk di bidang seni. Kemudahan yang ditawarkan AI membuat Generasi Z dan Generasi Alpha semakin akrab menciptakan karya secara instan. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran akan memudarnya kreativitas dan orisinalitas manusia.

Pandangan itu disampaikan seniman asal Kepanjen, Bagas Sutoko (66) atau yang akrab disapa Opa B, saat ditemui bacamalang.com, Senin (6/7/2026), di sebuah kafe dekat Stasiun Kereta Api Kepanjen.

Dengan gaya bicara yang santun dan selalu mengawali kalimat dengan ungkapan “nuwun sewu”, Bagas menegaskan bahwa seni sejatinya lahir dari cipta, rasa, dan karsa manusia, bukan semata hasil olahan teknologi.

“Menurut saya yang paling penting adalah orisinalitas. Di tengah fenomena Gen Z dan Gen A yang terbiasa menciptakan karya dengan bantuan AI, saya khawatir cipta, rasa, dan karsa manusia akan hilang jika semuanya diserahkan kepada teknologi,” ujarnya.

Tak hanya mengkritisi perkembangan AI, Bagas juga menyoroti beredarnya desain kaos di salah satu marketplace yang menurutnya mengandung unsur pelecehan simbolik terhadap perempuan.

Kaos tersebut memuat tulisan, “Jangan pernah menyakiti wanita, karena ada pepatah China yang mengatakan Cui ni ce chan, bersalah kepada wanita, maka hidup menderita.”

Menurut Bagas, rangkaian huruf yang dibuat menyerupai aksara Mandarin itu berpotensi menimbulkan makna negatif dan tidak pantas dipasarkan tanpa proses penyaringan.

“Saya melihat tulisan yang menyerupai huruf China itu dapat memunculkan kesan yang kurang baik. Bukan hanya berpotensi mengarah pada pornografi, tetapi juga pelecehan secara simbolik. Seharusnya ada quality control atau kajian sebelum produk seperti ini dijual bebas,” katanya.

Bagas menjelaskan, frasa “Cui ni ce chan” merupakan pelafalan fonetik yang dimaknai sebagai “Bersalah kepada wanita, maka hidup akan menderita.”

Mendedikasikan Hidup untuk Pendidikan Seni

Lahir di Malang pada 13 September 1960, Bagas kini menetap di Desa Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen, bersama istrinya, Sri Mulyanti. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak.

Di kalangan pelajar, ia dikenal sebagai “Opa Kebun Ilmu” karena dedikasinya membina generasi muda melalui pendidikan seni secara cuma-cuma.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Brawijaya Malang, SMP Negeri 2 Malang, SMA Negeri 1 Kepanjen, hingga melanjutkan studi di ASRI Yogyakarta pada Jurusan Desain Komunikasi. Pada era 1980-an, ia juga pernah meraih prestasi sebagai juara lomba desain tekstil tingkat nasional di Jakarta.

Sejak 2015, Bagas mendirikan Kebun Ilmu, sebuah ruang belajar seni berukuran sekitar 3 x 6 meter di rumahnya. Di tempat sederhana itu, puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Kepanjen belajar melukis, seni rupa, dekorasi, hingga pembuatan properti drama tanpa dipungut biaya.

Ia sengaja tidak menerima bayaran agar para siswa dapat belajar dengan semangat kemandirian. Kebun Ilmu juga memiliki sekitar 1.000 koleksi buku yang merupakan bantuan dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Malang.

Pernah Dekat dengan Cak Nun hingga Ebiet G. Ade

Perjalanan hidup Bagas juga diwarnai sejumlah pengalaman berkesan. Saat masih kuliah, ia sempat menjalin kedekatan dengan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan musisi Ebiet G. Ade.

Ia mengenang pernah memiliki utang kepada Cak Nun. Namun ketika hendak melunasinya, sang budayawan justru menganggap persoalan itu tidak perlu dipermasalahkan karena telah menganggapnya sebagai saudara.

Bagas juga mengaku pernah mengalami sejumlah pengalaman yang ia sebut sebagai “keajaiban”, mulai diterima bekerja di sebuah perusahaan minuman ringan berkat keahlian air brush, meraih nominasi lomba poster Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara independen, hingga bertemu secara tidak sengaja dengan pemilik sebuah perusahaan cat nasional di dalam bus. Dari pertemuan tersebut, ia bersama keluarganya diundang mengunjungi pabrik perusahaan di Jakarta.

Kini, selain aktif menjadi pegiat literasi dan membagikan ilmu seni budaya kepada generasi muda, Bagas masih menerima pekerjaan mural dan seni rupa sebagai sumber penghidupan sekaligus bentuk kecintaannya terhadap dunia seni.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bangun Karakter dan Jiwa Wirausaha, MTs Nurul Huda Babatan Biasakan Selawat Jibril 3.000 Kali Setiap Pagi

16 Juli 2026 - 16:04 WIB

Bersih Desa di Empat Wilayah Pakisaji: Wujud Syukur, Penghormatan Leluhur, dan Perekat Kebersamaan Warga

16 Juli 2026 - 12:20 WIB

Musim Layang-Layang di Malang Raya: Kurangi Ketergantungan Gadget, Satukan Generasi, dan Dongkrak UMKM Lokal

15 Juli 2026 - 16:29 WIB

14 Hari Persiapan Tanpa Anggaran, LABUMI Sukses Gelar Suran 9 Desa Bumiaji, Target Jadi Agenda Tahunan

15 Juli 2026 - 14:19 WIB

Napak Tilas Sang Pembabat Alas Desa Mangunrejo Kepanjen, Mbah Sumo Saimin

14 Juli 2026 - 07:13 WIB

Arca Tatasawara Hipnotis Delegasi Internasional di Festival Seni Lintas Budaya 2026

13 Juli 2026 - 23:19 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !