BACAMALANG.COM – Pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara banyak orang berkarya, termasuk di bidang seni. Kemudahan yang ditawarkan AI membuat Generasi Z dan Generasi Alpha semakin akrab menciptakan karya secara instan. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran akan memudarnya kreativitas dan orisinalitas manusia.
Pandangan itu disampaikan seniman asal Kepanjen, Bagas Sutoko (66) atau yang akrab disapa Opa B, saat ditemui bacamalang.com, Senin (6/7/2026), di sebuah kafe dekat Stasiun Kereta Api Kepanjen.
Dengan gaya bicara yang santun dan selalu mengawali kalimat dengan ungkapan “nuwun sewu”, Bagas menegaskan bahwa seni sejatinya lahir dari cipta, rasa, dan karsa manusia, bukan semata hasil olahan teknologi.
“Menurut saya yang paling penting adalah orisinalitas. Di tengah fenomena Gen Z dan Gen A yang terbiasa menciptakan karya dengan bantuan AI, saya khawatir cipta, rasa, dan karsa manusia akan hilang jika semuanya diserahkan kepada teknologi,” ujarnya.
Tak hanya mengkritisi perkembangan AI, Bagas juga menyoroti beredarnya desain kaos di salah satu marketplace yang menurutnya mengandung unsur pelecehan simbolik terhadap perempuan.
Kaos tersebut memuat tulisan, “Jangan pernah menyakiti wanita, karena ada pepatah China yang mengatakan Cui ni ce chan, bersalah kepada wanita, maka hidup menderita.”
Menurut Bagas, rangkaian huruf yang dibuat menyerupai aksara Mandarin itu berpotensi menimbulkan makna negatif dan tidak pantas dipasarkan tanpa proses penyaringan.
“Saya melihat tulisan yang menyerupai huruf China itu dapat memunculkan kesan yang kurang baik. Bukan hanya berpotensi mengarah pada pornografi, tetapi juga pelecehan secara simbolik. Seharusnya ada quality control atau kajian sebelum produk seperti ini dijual bebas,” katanya.
Bagas menjelaskan, frasa “Cui ni ce chan” merupakan pelafalan fonetik yang dimaknai sebagai “Bersalah kepada wanita, maka hidup akan menderita.”
Mendedikasikan Hidup untuk Pendidikan Seni
Lahir di Malang pada 13 September 1960, Bagas kini menetap di Desa Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen, bersama istrinya, Sri Mulyanti. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak.
Di kalangan pelajar, ia dikenal sebagai “Opa Kebun Ilmu” karena dedikasinya membina generasi muda melalui pendidikan seni secara cuma-cuma.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Brawijaya Malang, SMP Negeri 2 Malang, SMA Negeri 1 Kepanjen, hingga melanjutkan studi di ASRI Yogyakarta pada Jurusan Desain Komunikasi. Pada era 1980-an, ia juga pernah meraih prestasi sebagai juara lomba desain tekstil tingkat nasional di Jakarta.
Sejak 2015, Bagas mendirikan Kebun Ilmu, sebuah ruang belajar seni berukuran sekitar 3 x 6 meter di rumahnya. Di tempat sederhana itu, puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Kepanjen belajar melukis, seni rupa, dekorasi, hingga pembuatan properti drama tanpa dipungut biaya.
Ia sengaja tidak menerima bayaran agar para siswa dapat belajar dengan semangat kemandirian. Kebun Ilmu juga memiliki sekitar 1.000 koleksi buku yang merupakan bantuan dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Malang.
Pernah Dekat dengan Cak Nun hingga Ebiet G. Ade
Perjalanan hidup Bagas juga diwarnai sejumlah pengalaman berkesan. Saat masih kuliah, ia sempat menjalin kedekatan dengan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan musisi Ebiet G. Ade.
Ia mengenang pernah memiliki utang kepada Cak Nun. Namun ketika hendak melunasinya, sang budayawan justru menganggap persoalan itu tidak perlu dipermasalahkan karena telah menganggapnya sebagai saudara.
Bagas juga mengaku pernah mengalami sejumlah pengalaman yang ia sebut sebagai “keajaiban”, mulai diterima bekerja di sebuah perusahaan minuman ringan berkat keahlian air brush, meraih nominasi lomba poster Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara independen, hingga bertemu secara tidak sengaja dengan pemilik sebuah perusahaan cat nasional di dalam bus. Dari pertemuan tersebut, ia bersama keluarganya diundang mengunjungi pabrik perusahaan di Jakarta.
Kini, selain aktif menjadi pegiat literasi dan membagikan ilmu seni budaya kepada generasi muda, Bagas masih menerima pekerjaan mural dan seni rupa sebagai sumber penghidupan sekaligus bentuk kecintaannya terhadap dunia seni.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































