BACAMALANG.COM – Produk pelindung tubuh seperti kneepad dan elbowpad selama ini didominasi polimer sintetis yang sulit terurai. Kondisi itu menimbulkan masalah lingkungan sekaligus ketergantungan pada material berbasis fosil. Di tengah kebutuhan akan alternatif ramah lingkungan, penelitian kini diarahkan pada pemanfaatan serat rami dan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan utama.
Kneepad adalah pelindung lutut berbentuk bantalan tebal yang diikat melingkar di sekitar lutut. Fungsinya mencegah cedera saat jatuh, terbentur, atau sering bertumpu di lutut. Elbowpad memiliki fungsi serupa, tetapi dipakai di siku untuk melindungi dari benturan, gesekan, atau luka lecet. Kedua alat ini lazim digunakan dalam olahraga seperti skateboard, sepeda BMX, sepatu roda, voli, basket, hingga motor trail. Atlet voli, misalnya, memakai kneepad agar aman saat melakukan diving. Selain itu, pelindung ini juga dipakai pekerja bangunan, mekanik, teknisi, serta hobi outdoor seperti panjat tebing atau berkebun. Intinya, kneepad dan elbowpad adalah gear pengaman agar sendi lutut dan siku tidak langsung terkena benturan.
Penelitian pengembangan versi ramah lingkungan dari alat protektif ini berlangsung sepanjang 2025–2026 dengan dukungan Asosiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat PTNBH. Tiga perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) terlibat dalam riset tersebut. Universitas Negeri Malang bertugas merancang desain produk dan melakukan analisis numerik menggunakan perangkat lunak ANSYS untuk memvalidasi kinerja mekanik prototipe. Universitas Negeri Yogyakarta menjadi pusat eksperimen dengan fokus pada variasi fraksi volume serta perlakuan kimia pada serat rami. Sementara Universitas Hasanuddin melakukan pengujian kekuatan komposit dengan memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit sebagai penguat.
Ketua tim peneliti, Dr. Ir. Retno Wulandari, S.T., M.T., menyatakan, “Selama ini produk pengaman seperti kneepad didominasi polimer sintetis yang sulit terurai. Padahal, Indonesia memiliki serat rami dan limbah sawit yang melimpah, terbarukan, ringan, dan berpotensi memberikan perlindungan mekanik setara bahan sintetis.”
Peneliti lain, Ir. Ahmad Atif Fikri, Ph.D., menambahkan bahwa metode Finite Element Method (FEM) memungkinkan prediksi respons material terhadap tekanan dan benturan sebelum prototipe fisik diproduksi. “Metode FEM mempercepat proses pengembangan sekaligus menekan biaya,” ujarnya.
Selain berorientasi pada publikasi internasional, penelitian ini dirancang mendukung tiga target Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur diwujudkan melalui penciptaan material baru berbasis hayati. SDG 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab tercermin dari pemanfaatan limbah sawit dan serat alam lokal yang berkelanjutan. SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim diwujudkan dengan mengurangi ketergantungan pada material sintetis berbasis fosil.
Luaran penelitian ditargetkan berupa data komprehensif performa mekanik komposit serat rami dan tandan kosong kelapa sawit, prototipe kneepad dan elbowpad siap uji produk, serta publikasi internasional terindeks Scopus. Dr. Retno menambahkan, “Kami ingin produk ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis dan mudah diadopsi oleh industri kecil maupun besar. Ini adalah langkah nyata hilirisasi dari riset ke pasar.”
Penelitian dijadwalkan berakhir pada akhir 2026, dengan uji coba produk direncanakan berlangsung pertengahan tahun. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi atas masalah limbah sekaligus membuka peluang industri baru berbasis material alam. Kneepad dan elbowpad dari serat rami dan limbah sawit bukan hanya sekadar perlengkapan protektif, tetapi juga simbol transformasi menuju masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan berpihak pada solidaritas sosial.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































