BACAMALANG.COM – Canda, obrolan ringan, dan bermain bersama menjadi cara sederhana yang dilakukan relawan komunitas Asli Malang – Ayas Umak Peduli untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak penyintas gempa bumi di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di sela-sela penyaluran bantuan kemanusiaan, para relawan meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan lima anak yang baru pulang sekolah. Suasana yang semula biasa saja perlahan berubah menjadi penuh keakraban dan tawa.
Sebagian anak terlihat asyik mengobrol bersama relawan. Ada pula yang memanjat pohon untuk mencari buah juwet atau chompeng, sebutan buah tersebut dalam bahasa setempat. Sementara anak lainnya menikmati momen kebersamaan dengan berfoto bersama para relawan.
Keceriaan itu menjadi pemandangan tersendiri di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih pascagempa. Sebagian warga, termasuk anak-anak, masih harus tidur di tenda yang didirikan di depan rumah mereka.
Perwakilan Asli Malang, Yoeni Achyar, mengatakan bahwa kehadiran relawan tidak semata-mata untuk menyalurkan bantuan material. Waktu yang diberikan untuk mendengarkan cerita, membangun kedekatan, dan berbagi kegembiraan juga menjadi bagian penting dari misi kemanusiaan.
“Perjalanan kemanusiaan berisi hal tentang apa yang kita kerjakan, juga tentang waktu yang kita luangkan untuk berkenalan, mendengar cerita, dan berbagi tawa. Semoga menjadi upaya trauma healing sederhana untuk perlahan mengikis trauma mereka dan membangkitkan semangat mengisi kehidupan di masa selanjutnya,” ujar Yoeni kepada BACAMALANG.COM, Selasa (13/10/2026).
Kehangatan interaksi tersebut juga terekam dalam sebuah video yang dikirimkan kepada redaksi. Dalam rekaman itu, Yoeni menyapa anak-anak yang tengah mencari buah sepulang sekolah.
“Sepulang sekolah nyari apa, Dek?” tanya Yoeni.
“Nyari sompeng,” jawab anak-anak dengan riuh.
Percakapan singkat tersebut memperlihatkan bagaimana interaksi sederhana dapat membuka ruang bagi anak-anak untuk kembali menikmati suasana bermain dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Kebersamaan Menjadi Bagian dari Pemulihan
Pengalaman di Pota menunjukkan bahwa pendampingan terhadap anak-anak setelah bencana tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan formal. Kehadiran orang-orang yang bersedia menemani, mendengarkan, dan mengajak mereka bermain dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial.
Meski demikian, proses pemulihan setiap anak membutuhkan waktu dan pendekatan yang berbeda. Dukungan berkelanjutan dari keluarga, masyarakat, serta tenaga profesional apabila diperlukan tetap penting untuk membantu anak menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Bagi relawan Asli Malang – Ayas Umak Peduli, momen berbagi tawa bersama anak-anak tersebut menjadi pengingat bahwa aksi kemanusiaan bukan hanya tentang bantuan yang disalurkan, tetapi juga tentang kepedulian dan kebersamaan yang diberikan.
Di tengah situasi pascagempa yang masih menyisakan ketidakpastian, keceriaan kecil di Pota diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk kembali menjalani aktivitas dan menatap hari esok dengan lebih optimistis.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































